f

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore. Excepteur sint lorem cupidatat.

You may like:

Sekolah

Eduaksi.com berbagi modul resmi lengkap tentang Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS). Modul ini terdiri atas 3 (tiga) materi pokok yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan guru dalam penyusunan soal-soal HOTS . Penyajian materi pada modul ini diawali dengan pemaparan fokus dan uraian materi pada masing-masing materi pokok. Sedangkan pada bagian akhir modul dilengkapi dengan penugasan dan refleksi. Materi-materi pokok

Era kelas digital, robot pembantu dan ujian online, bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan dan bisa didapat pada era Pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 bisa dikatakan sebagai masa depan pendidikan - dan siap untuk mengubah bagaimana konsumsi informasi berubah secara dramatis, Pendidikan 4.0 dapat melengkapi fenomena penetrasi digital di kehidupan kita sehari-hari. Apakah Pengaruh penuh Digital? Dengan bantuan pendidikan 4.0, siswa akan dipersiapkan untuk

Promosikan pesan sekolah Anda dengan rencana komunikasi kembali ke sekolah yang mengarah kepada berbagi tantangan dan prestasi warga sekolah. Musim kembali ke sekolah telah berjalan penuh dengan kegembiraan, siswa, orang tua, pendidik, pebisnis, politisi, dan anggota masyarakat lainnya semua mencari sekolah untuk menetapkan tujuan tahun ini. Pemimpin sekolah harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menyoroti hal-hal besar yang terjadi di sekolah mereka. Untuk

Sekolah saat ini hampir tidak terlihat seperti yang mereka lakukan 50 tahun yang lalu. Anak-anak tidak riffling melalui katalog kartu atau mencongkel terbuka ensiklopedi berdebu di perpustakaan - mereka browsing database online dan cekatan melalui Wikipedia pada laptop pribadi. Menurut Jonathan Rochelle, kepala manajemen produk untuk Google Apps for Education, 50 tahun ke depan mungkin akan melihat kemajuan yang lebih buruk lagi. Kolaborasi

Pedagogi ini sering dikenal disekolah dengan sebutan Outdoor Activity atau pembelajaran luar kelas. Nah sebaiknya kembali pada konteks yang sesuai yaitu Placed-Based Learning. Nah apa itu Placed-based Learning? Bagaimana Konsepnya? Bagaimana Penerapannya? Kurikulumnya?. Eduaksi akan membuat artikel bersambung yang mengupas pedagogi terbarukan ini. Dengan pedagogi ini memungkinkan sekolah lebih banyak lagi peluang berinovasi dalam pembelajaran. Pendidikan Berbasis Tempat [Placed-Based Learning] Pendidikan berbasis

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan meluncurkan program peningkatan kompetensi guru yakni guru pembelajar. "Kami mengenalkan program guru pembelajar. Kami ingin dari namanya, menjelaskan program tersebut yakni tidak hanya murid yang belajar tetapi juga siswa," katanya saat peluncuran program tersebut di Jakarta, Sabtu. Sifat pembelajar, lanjut Anies, merupakan sifat yang harus ada pada semua baik guru maupun murid. Dalam pelaksanaan program tersebut

Sebelum membangun sebuah tim pemimpin sekolah yang visioner akan memiliki harapan dan mampu meramalkan trend yang akan terjadi didunia pendidikan di masa depan. Untuk itu pemimpin sekolah perlu menyusun langkah awal dengan mencari, mengumpulkan dan membuat review atas informasi yang ada. Kemudian dari informasi tersebut dibuatlah rencana dasar dengan mungundang atau mengajak hingga bagian terkecil di sekolah. Pada bagian sebelumnya sudah

Setiap individu memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dalam merespons situasi belajar yang dialami. Hal ini memunculkan beberapa gaya belajar yang bervariasi dengan model model yang beragam pula. Hal ini terjadi karena potensi intelegensi individu yang berbeda antara satu dengan yang lain.

1. Myer-Briggs Type Indicator ( MBTI )

Model ini mengklasifikasikan pebelajar sesuai dengan skala yang berasal dari teori psikologis Carl Jung. Si belajar akan memperlihatkan kecenderungan :
  • Ekstravert (suka mencoba sesuatu ,memusatkan perhatiannya pada dunia luar) atau intropert (merenungkan sesuatu, memusatkan perhatian pada dunia ide batin )
  • Sensor (praktis, berorientasi pada sesuatu yang detail, memusatkan perhatian pada fakta dan prosedur) atau intuitor (imajinatif, berorientasi pada konsep, memusatkan perhatian pada makna dan kemungkinan.
  • Thinker (spektis, cenderung membuat keputusan berdasarkan logika dan kaidah) atau feeler (perasa), apresiatif (cenderung membuat keputusan berdasarkan pertimbangan pribadi dan humanistis)
  • Judger (menetapkan dan mengikuti agenda, mencoba meyelesaikan sesuatu meski dengan data yang tidak lengkap), atau perceiver (mudah beradaptasi dengan keadaan yang terus berubah, menolak untuk mengakhiri sesuatu sebelum mendapatkan data lebih banyak.

Selama beberapa tahun terakhir kita semua pernah melihat tren sekolah meminggirkan pendidikan seni dari kurikulum mereka. Musik, Lukis, Teater, dan banyak lagi. Tidak ada keraguan bahwa seni adalah hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Melihat mereka mulai mencelup kuas ke cat dan membuat gambar yang indah lalu mamajangnya dirumah adalah hal yang mengagumkan. Melalukan kegiatan dengan permainan adalah menggembirakan. Namun ternyata seni

Generasi Z, juga dikenal sebagai generasi Internet dan Digital Natives, adalah generasi yang tumbuh di mana akses internet selalu tersedia dan berlimpah. Anak hyper-connected dan tech-savvy ini mampu mengubah bagaimana cara pendidik merumuskan pelajaran dan berinteraksi dengan siswa. Banyak yang memprediksi bagaimana anak-anak diajarkan di semua tingkatan dengan membuat teknologi merupakan bagian integral dari semua studi kelas. Apakah Anda seorang