Beranda blog

Terpuruknya ICT dan Kompetensi Edukasi Indonesia

Tahun 2017 ini susunan sepuluh orang terkaya didunia tidak banyak berubah, lima dianteranya masih dikuasai oleh para milyuner IT, yaitu : Bill Gates (Microsoft), Carlos Slim (Telecom), Jeff Bezos (Amazon), Mark Suckerberg (Facebook), dan Larry Ellison (Oracle). Bisa diartikan setengah orang terkaya didunia adalah dari orang yang mendulang uang didunia IT.

Dua puluh tahun terakhir ini dunia berubah oleh IT, mengakhiri era Modernisasi menjadi era Informasi. IT menjadi sumber kekayaan yang baru, sumber minyak yang baru, sumber emas yang baru dan sumber kekuasaan yang baru. Sumber daya kekayaan dan kekuasaan yang baru ini sudah tidak lagi menggunakan Sumber Daya Alam, seperti yang bangsa ini bangga-banggakan dengan kekayaan alamanya. Sumber daya yang satu ini hanya mengandalkan satu hal, otak kita sendiri… Brainware.

Bangsa yang menguasai IT akan mengambil porsi Power didunia, siapa yang mengabaikannya akan terlibas dan tertinggal.

Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk mengangkat IT dalam sebuah bangsa?
Fasilitas? Infrastruktur tercanggih? Sistem termutakhir?

Jawabannya seperti telah disebutkan diatas, sumber daya IT hanya mengandalkan satu hal, yaitu Brainware… otak kita. Dan yang bertanggung jawab terhadap otak kita adalah Sistem Pendidikan kita. Dalam hal ini adalah Kementrian Pendidikan kita, bukan Kemenkominfo.

Lalu sejauh mana langkah Kementrian Pendidikan kita merespon akan pergerakan dan kompetisi dunia ini?

Sebelumnya harus dimengerti policy yang dilakukan pemerintah tiap negara berbeda-beda terhadap ICT, yaitu :
1. ICT as Stand Alone Subject
2. ICT as Media and Communication tools
3. ICT as Pedagogy Integration

Ketiga policy ini pada negara-negara dianggap sebagai sebuah level, sejauh mana kemajuan ICT dalam pendidikannya. Yang pertama adalah level Stand Alone, ini adalah langkah paling awal, karena lebih mudah dilakukan. Dilakukan secara bertahap, sampai seluruh sekolah telah mengajarkan ICT dalam standar kompetensi rata-rata nasional telah tercapai. Yang artinya standar fasilitas pendidikan ICT yang disebut LCR (Learner per Computer Ratio) telah tercapai.

Setelah LCR tercapai bisa masuk tahap kedua yaitu sebagai Media and Communication Tools. Disini tingkat keberhasilannya bukan lagi LCR tapi diukur oleh ratio penggunaan CAI (Computer Aid Instruction) dan selanjutnya IAI (Internet Aid Instruction). Setelah mencapai sebuah angka target oleh pemerintah maka bisa dilanjutkan menjadi level Pedagogy Integration.

Dilevel ini terjadi resistensi oleh guru-guru, tingkat keberhasilannya masih diperdebatkan di negara-negara maju antara parameter kuantitas jumlah guru yang mengaplikasikannya atau kualitas pedagogi. Dibeberapa negara maju baru-baru ini telah merelease sebuah riset tentang diragukannya tingkat keberhasilan ICT dalam integrasi pendidikan. Nilai dari siswa pengguna integrasi ICT dan bukan pengguna integrasi ICT menunjukan di banyak negara integrasi ICT justru memiliki nilai yang sedikit lebih kurang (kecuali Iran). Riset itu berargumen bahwa pengguna integrasi ICT datang dari sekolah dengan sistem pendidikan, fasilitas dan intake yang lebih baik dari yang tidak menggunakan ICT, jadi seharusnya kesimpulannya mungkin lebih buruk dari itu, namun riset masih dilakukan dan akan kita bahas efek integrasi ini diartikel yang berbeda.

Mari kita lihat Indonesia ada dilevel mana tingkat ICT dalam pendidikannya.

Dalam tahap awal, Indonesia seharusnya dalam level ICT sebagai sebuah Objek, namun dalam kurikulumnya terbaru hal ini dihapus dengan alasan tak berdasar dan mengkhawatirkan. Pemerintah mengaku telah mengupgrade tingkat pendidikannya ke level terkini, yaitu ICT Integrasi. Pertanyaannya pantaskah pemerintah melakukan hal ini?

Kita lihat dari keberhasilan level satu berbicara mengenai angka LCR. Targetnya tentu sebuah angka ideal 1:1, yaitu setiap siswa memiliki satu computer disekolahnya sebagai nilai rata-rata di bangsa itu. Saya ambil contoh beberapa sebagai patokan; Australia 2:1, Singapore 4:1, Jepang 7:1, Malaysia 12:1, Thailand 11:1, China 14:1, Iran 83:1, India 89:1, Srilanka 98:1, dan berapa Indonesia?
136:1.

Angka itu menunjukan Indonesia terpuruk pada posisi juru kunci, selevel dengan rata-rata nilai dari negara tertinggal. Apakah ini tidak mengusik anda? Angka ini jelas akan membuat anda gelisah bila masih ada sedikit rasa nasionalisme dan cinta bangsa ini.

Tanpa melewati nilai satu banding sepuluh-duapuluh kita tidak pantas masuk dalam tahap selanjutnya, ICT sebagai media dan komunikasi pembelajaran. Bayangan kita ICT sebagai media pembelajaran masih terlalu kerdil dengan membatasi Laptop dan Projector dalam kelas, ini jauh dari itu. Lalu apa alasan pemerintah berani memajukan ICT sebagai level integrasi? Dimana CAI dan IAI dalam kelas-kelas sebagai syarat masuk dalam level integrasi?

Pendidikan kita memberikan target visi sebuah generasi emas sebagai tantangan global. Tapi apakah Generasi Emas berkarakter dan akhlak mulia ini dapat berkompetisi dalam era kekuasaan digital? Saya khawatir, anak-anak kita menjadi anak-anak yang jujur, sopan dan menyenangkan (visi Generasi emas berkarakter) tapi mereka pengangguran, miskin dan tertindas. Hancur oleh ekspansi kekuatan kapitalis digital…

Semoga…

OLIMPIADE SAINS PLUS 2018

0

PERSIAPKAN DIRI MULAI SEKARANG ….!!! OLIMPIADE SAINS PLUS 2018 adalah OLIMPIADE SAINS SISWA & GURU 2018 Tingkat SMP/MTs dan SMA/MA/SMK Se Provinsi Sumatera Utara dan Aceh yang diselenggarakan oleh Lembaga Olimpiade Sains Plus Indonesia (LOSPI) dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara bejerjasama dengan Universitas Sumatera Utara (USU) pada:

Hari/Tanggal: Sabtu-Minggu/24-25 Februari 2018
Tempat: Auditorium Universitas Sumatera Utara

Surat undangan ke semua sekolah SMP/MTs dan SMA/MA/SMK akan dikirim pada tanggal 3 Januari 2018. Seluruh soal olimpiade dibuat dan ditanggungjawabi oleh Lembaga Pelatihan OSN SOC Indonesia (http://www.pelatihanosn-soc.com/).

Adapun Bidang Olimpiade yang akan dilombakan adalah sebagai berikut:

1. Bidang Olimpiade Siswa SMA/MA/SMK
a. Olimpiade Matematika : 30 soal
b. Olimpiade Fisika : 30 soal
c. Olimpiade Kimia : 40 Soal
d. Olimpiade Biologi : 50 soal
e. Olimpiade Kebumian & Geografi : 50 soal
i. Olimpiade Ekonomi& Akuntansi : 50 soal
j. Olimpiade Bahasa Inggris : 60 soal

2. Bidang Olimpiade Guru SMA/MA/SMK
a. Olimpiade Guru Matematika : 30 soal
b. Olimpiade Guru Fisika : 30 soal
c. Olimpiade Guru Kimia : 40 Soal
d. Olimpiade Guru Biologi : 50 soal
e. Olimpiade Guru Kebumian & Geografi : 50 soal
i. Olimpiade Guru Ekonomi& Akuntansi : 50 soal
j. Olimpiade Guru Bahasa Inggris: 60 soal

3. Bidang Olimpiade Siswa SMP/MTs
a. Olimpiade Matematika : 30 Soal
b. Olimpiade Sains/IPA : 50 soal
c. Olimpiade IPS : 50 soal
d. Olimpiade Bahasa Inggris: 60 soal

4. Bidang Olimpiade Guru SMP/MTs
a. Olimpiade Guru Matematika : 30 Soal
b. Olimpiade Guru Sains/IPA : 50 soal
c. Olimpiade Guru IPS : 50 soal
d. Olimpiade Guru Bahasa Inggris: 60 soal

Informasi lengkap tentang Olimpiade ini dapat dilihat di website www.lospi.org . Pendaftaran dapat dilakukan mulai tanggal 4 Januari 2018 – 10 Februari 2018 secara online melalui email ataupun manual dengan datang langsung ke Kantor Panitia di Komplek Villa Setia Budi Sentosa No.C-30 Persis Depan Kampus II Universitas Methodist Indonesia (UMI) Jln. Pasar II Tanjung Sari – Medan.

Contact Person: 0812 6514 9053 (Gilbert) 0812 6514 9047 (Sanjaya)

Modul Resmi lengkap tentang Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS).

0

Eduaksi.com berbagi modul resmi lengkap tentang Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS). Modul ini terdiri atas 3 (tiga) materi pokok yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan guru dalam penyusunan soal-soal HOTS . Penyajian materi pada modul ini diawali dengan pemaparan fokus dan uraian materi pada masing-masing materi pokok. Sedangkan pada bagian akhir modul dilengkapi dengan penugasan dan refleksi.

Materi-materi pokok dalam modul ini adalah sebagai berikut :
1. Materi Pokok 1: Pengertian dan Konsep Soal HOTS
2. Materi Pokok 2: Peran Soal HOTS dalam Penilaian
3. Materi Pokok 3: Strategi dan Implementasi Penyusunan Soal HOTS.

Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan KebuKurikulum 2013 dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan
hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Proses penerapannya dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sejak tahun pelajaran 2013/2014 agar terjadi penguatan dan
peningkatan mutu di sekolah. Pada tahun pelajaran 2018/2019 seluruh satuan pendidikan diprogramkan sudah menerapkan Kurikulum 2013.

Kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah memberikan pelatihan dan pendampingan bagi guru dari
sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013, dan mengembangkan naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013 untuk Kepala Sekolah dan Guru. Melaksanakan kebijakan tersebut, Direktorat Pembinaan SMA pada tahun 2016 dan 2017 telah mengembangkan naskah-naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013
berupa pedoman, panduan, model, dan modul sebagai referensi bagi Kepala Sekolah dan Guru dalam mengelola dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dan penilaian.
Naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013 tersebut dalam penggunaannya dapat diimprovisasi, diinovasi dan dikembangkan lebih lanjut sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu Kepala Sekolah dan Guru dituntut kritis, kreatif, inovatif, dan adaptif untuk dalam menggunakan naskah tersebut,

Semoga naskah ini dapat menginspirasi Kepala Sekolah dan Guru untuk memberikan yang terbaik bagi peningkatan mutu pendidikan di SMA melalui Kurikulum 2013.

Silahkan download modul disini

Literasi al quran ala perguruan Muhammadiyah 12 Binjai

0

Perguruan Muhammadiyah 12 Binjai adalah perguruan 1 atap, SMP Muhammadiyah 12 dan SMA Muhammadiyah 12 Binjai. Salah satu dari beberapa perguruan yang dibina oleh majelis Dikdasmen PDM Binjai.

Akhir tahun ajaran lalu, kepala sekolah SMA Muhammadiyah 12 Binjai meninggal dunia. Melalui pendekatan yang baik, Kastalani SE, Msi berkenan menggantikan almarhumah Dra. Hj. Nurainun sebagai kepala sekolah. Sebagai konsekuensinya, Kastalani harus mundur dari jabatannya sebagai wakil ketua Majelis Dikdasmen PDM Binjai periode 2015-2020. Sukses membawa kelulusan siswanya 100 %, Kastalani membuat gebrakan baru. Sekolah yang terletak di jantung kota rambutan, Binjai kenapa sepi peminat. Padahal tidak ada yang kurang. Fasilitas lengkap. Ruang belajar cukup nyaman. Mesjid tempat beribadah ber ac. Ruang laboratorium komputer ada. Perpustakaan ada. Setelah berkonsultasi dan bertukar pikiran dengan teman sejawat, muncullah ide, kegiatan literasi al quran.

Halaman parkir yang berlantai keramik disulap menjadi ruang belajar. Setiap jumat pagi, semua siswa SMP dan SMA duduk manis, bersila. Mulanya asing. Aneh. Ada yang tidak yakin. Dipandu oleh guru tahfiz quran dan guru Al Islam setiap jumat pagi siswa belajar membaca dengan benar surat surat al quran. Mulai dari an naas, al falaq, al ikhlas, al lahab dan seterusnya. Siswa yang memang qari dilibatkan juga. Targetnya, tamat dari sekolah siswa mampu menghafal dan membaca dengan benar ayat ayat al quran. Supaya lebih terarah, selesai zuhur berjemaah diadakan kultum. Pengajian singkat 7 menit. Protokol dan yang mengisi pengajian semua siswa, bergilir. SMP dan SMA. Senin sampai kamis. Kegiatan yang awalnya sulit, mulai membuahkan hasil.

Tidak hanya kelas VIII dan seterusnya, kelas VII pun antusias, mereka menawarkan dirinya. “Saya pak, saya pak”. Walaupun tahun ajaran baru, masih ada siswa baru yang mendaftar. Alasan orang tuanya sederhana, supaya anaknya lebih baik. Selama ini, siswa baru kelas VII dan X tidak lebih 20 orang. Sekarang siswa kelas VII, 21 orang dan kelas X, 32 orang. Jumat lalu, 10 november , diadakan 5 qari terbaik diantara 20 siswa yang dipanggil secara acak. Hasilnya tidak mengecewakan. Kelihatan peningkatan kualitas bacaan yang cukup signifikan. Kepada 5 yang lebih baik diantara yang terbaik diberikan reward.

Kontributor: Fuad Binjai

Menilai Guru

0

Belakangan ini guru menjadi sorotan yang luar biasa berbagai terobosan pun mulai dilakukan, mulai dari plpg, ukg, atau kalau di sekolah ada visitasi, penilaian guru dan lain-lain. Sejatinya semua ingin mengukur keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di kelasnya. Dan sejatinya menilai hasil kinerja guru bisa dibilang sederhana yaitu lihat saja nilai sebenarnya yang diperoleh anak bila berkaitan dengan nilai, dan lihat keterampilan dan sikap yang dimiliki anak jika berkaitan dengan sikap dan keterampilan. Sederhana kan?

Jika begitu mana yang lebih dulu dilihat sebagai dasar keberhasilan? Apakah gurunya atau siswanya?

Yuk kita lihat. Perhatikan seorang ahli masak. Bukankah seorang chef handal dan ahli yang dinilai adalah hasil makanannya, bukan pada saat bagaimana dia memasaknya. Dengan merasakan hasil masakannya maka kita bisa tahu chef tersebut ahli dan pandai dalam memasak. Saat kita menemui rasa masakan yang tidak sesuai atau bahkan tidak enak, barulah kita mencari penyebabnya melalui melihat langsung bagaimana proses chef itu memasaknya. Melihat catatan resepnya. Melihat bagaimana dia mengolah bahan menjadi makanan. Dan bahkan melihat detil penyajiannya.

Yang sering terjadi dalam proses pembelajaran adalah kita melalaikan pengamatan perkembangan hasil anak secara otentik terlebih dahulu, bukan pada hasil di lembar laporan nilai atau raport. Ketika Kita fokus kepada administrasi guru, visitasi guru dikelas, penilaian sejawat dan pengamatan lainnya itu semua tidaklah menjamin tercapainya standar minimal pelayanan sekolah apalagi tanpa dasar sebelumnya kenapa kita harus menilai guru bersangkutan. Justru kita juga lupa ketika menerima para guru baru, mereka tidak kita beri bekal dasar bagaimana spm (standar pelayanan minimal) di sekolah, apa yang musti ditekankan dalam proses belajar mengajar, bagaimana membuat perangkat, bagaimana assesment dan pengelolaan hasil nilainya. Mereka seakan kita anggap sudah mumpuni dalam mengajar padahal setiap sekolah memiliki standar tersendiri. Ini nanti akan merepotkan sekolah dikemudian hari karena para guru berasumsi sendiri terhadap kinerjanya.

Jadi untuk melihat keberhasilan seorang guru cukup sederhana, lihat yang dicapai oleh muridnya baik disisi pengetahuan, keterampilan maupun sikapnya. Jika terdapat kekurangan maka kita perlu mencari dimana letak kelemahan yang terjadi dan ingat bukan mengevaluasi, sebab yang dilakukan guru adalah “proses membentuk menjadi”. Bukan benar salah. Dimana setiap kondisi kelas jelas jelas berbeda dengan kelas lain, karakter anak pun berbeda satu sama lain, dan kita tidak bisa men-generalisasi bahwa saat mengamati guru mengajar satu kelas dan menemukan kekurangan, apalagi berhubungan ketidakseduaian dengan rpp, maka guru dianggap kurang disemua kelas. Sebab antara satu kelas dengan kelas lain guru mungkin menggunakan metode yang berbeda dibanding kelas lain, dan bisa jadi setiap kelas rpp-nya berbeda karena berbeda metode.

Nah apa solusinya? Kekayaan metode, pengamatan yang mendalam kepada setiap anak, inobel atau inovasi pembelajaran tanpa henti, dan luasnya sumber wawasan para pemangku jabatan disekolah adalah kunci meningkatkan kualitas guru dalam mengajar dan mencapai standar pelayanan minimal di sekolah. Sebab era telah berubah drastis, bila melihat dinegara maju bahkan mereka melakukan quantum yang hampir tidak bisa diprediksi. Suatu saat mereka mengajar satu kelas dengan metode A dan ketika masuk kelas lain pada tingkat yang sama mereka merubah metodenya menjadi B, fokusnya adalah kepada tujuan dan visi proses pembeljaran yang harus dicapai.

Sekarang tergantung kita menggunakan kurikulum berbasis instruksional atau kompetensi atau jangan jangan berbasis kompetensi instruksional yaitu kurikulum kompetensi yang menunggu instruksi atasan :-p (hehehe), karena kurikulum yang sebenarnya adalah “Guru Saat Menfajar dikelas”

Teman teman yuk bekukan ilmu yang kita peroleh dengan menulisknnya agar generasi selanjutnya bisa belajar dari kita dan jariyah kita terus menderu tanpa henti.

Pendidikan 4.0 , Apa itu?

0

Era kelas digital, robot pembantu dan ujian online, bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan dan bisa didapat pada era Pendidikan 4.0.

Pendidikan 4.0 bisa dikatakan sebagai masa depan pendidikan – dan siap untuk mengubah bagaimana konsumsi informasi berubah secara dramatis, Pendidikan 4.0 dapat melengkapi fenomena penetrasi digital di kehidupan kita sehari-hari.

Apakah Pengaruh penuh Digital?

Dengan bantuan pendidikan 4.0, siswa akan dipersiapkan untuk menghadapi tantangan digital secara langsung. Inti dari fenomena ini adalah kreativitas yang tentu saja akan memungkinkan siswa untuk membuka jalan keluar bagi mereka dari berbagai tantangan perkembangan. Mari kita jelajahi ruang lingkupnya dalam perjalanan artikel ini.

Kita mulai dengan mengatakan bahwa fenomena saat ini merupakan tantangan yang tidak hanya berfokus pada apa yang diajarkan tetapi juga cara pengajarannya. Model pendidikan sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan masa depan – ini sejalan dengan tren masa depan.

Apa itu Pendidikan 4.0 ?

Pendidikan 4.0 (education 4.0) adalah istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari Pendidikan 3.0 (efucation 3.0) yang menurut Jeff Borden, Education 3.0 mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan teknologi digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi, perangkat keras dan perangkat lunak, dan “hal lain dengan e di depannya. Pendidikan 4.0 jauh diatas hal tersebut dan dalam beberapa hal, pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan munculnya revolusi industri keempat (4 IR) atau (RI 4) dimana manusia dan mesin diselaraskan untuk mendapatkan solusi, memecahkan masalah dan tentu saja menemukan kemungkinan inovasi baru.

Revolusi Industri Keempat (4IR) diumumkan di Davos pada tahun 2016, berbagai elemen terkait dengan dimensi baru ini telah berlangsung selama hampir satu dekade. Istilah ini mendapat publisitas luas ketika Kanselir Jerman Angela Merkel disorot di Hanover Fair pada tahun 2011, kemunculan Industri 4.0 membuat manufaktur Jerman lebih kompetitif.

Perjalanan Munculnya Revolusi Industri 4.0

Industri 1.0: (1784): Berdasarkan peralatan produksi mekanik yang digerakkan oleh tenaga air dan uap.

Industri 2.0: (1870): Berdasarkan produksi massal yang dimungkinkan oleh pembagian kerja dan penggunaan energi listrik.

Industri 3.0 (1969): Berdasarkan penggunaan elektronik dan TI untuk lebih mengotomatisasi produksi.

Industri 4.0 (hari ini): Berdasarkan penggunaan sistem cyber-fisik.

Alasan untuk mengatakan bahwa revolusi industri keempat mulai masuk secara penuh hari ini adalah karena fakta bahwa kecepatan dan dampak terobosan saat ini tidak seperti sebelumnya. Inovasi dan kemajuan di mana-mana dipimpin oleh kemunculan kuat bidang seperti Kecerdasan Buatan, Robotika, halaman Internet, Kendaraan Robot, Bioteknologi, Nanoteknologi, Pencetakan 3-D, Ilmu Material, Komputasi Quantum dan Penyimpanan Energi. Dampak dari terobosan semacam itu begitu pesat sehingga revolusi industri keempat berkembang dengan kecepatan yang eksponensial, dan mengganggu hampir semua industri.

Karena menghadapi berjalannya RI 4.0 tersebut maka dunia pendidikan juga harus mengantisipasi dan mulai lebih awal dengan Pendidikan 4.0 sebuah langkah kecil untuk memenuhi tujuan tersebut.

Pendidikan tidak terbatas pada kelas.

Pendidikan 4.0 berkembang pada premis dasar. Ruang kelas online telah memfasilitasi pembelajaran dengan lebih banyak cara daripada yang pernah kita bayangkan.

Pendidikan sekarang dipandang lebih sebagai proses seumur hidup daripada ritual yang berorientasi pada kelas atau dalam hal ini hanya sekedar batu loncatan ke dunia profesional. Peserta didik dan pendidik sekarang akan mencari cara untuk mendefinisikan kembali cara-cara di mana pembelajaran selalu mempengaruhi kehidupan mereka.

Pendidikan 4.0 memang masih didepan pintu, namun ini adalah peluang sekaligus tantangan bagi sekolah yang siap menembuh masa depan lebih dulu. Dan Siapakah Pemain-perubahan menyangkut pendidikan 4.0? Apakah sekolah Anda atau sekolah lain yang kebih dulu.

Yang terpenting adalah bagaimana sekolah menyiapkan untuk memasuki babak baru dunia pendidikan yang berubah begitu cepat.

Ada saran, atau Anda bisa bagikan tulisan ini.

5 gelar sarjana yang akan hilang karena kedatangan teknologi

0

Jangan Salah Pilih Jurusan! 5 Gelar Sarjana Ini Kelak Tak Lagi Laku karena Digantikan Teknologi

Apakah Anda pernah menonton film yang menceritakan bahwa masa depan akan dikuasai oleh robot dan teknologi?

Sebenarnya, apa yang diceritakan dalam film tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang mungkin sebentar lagi akan kita rasakan.

Jumlah robot akan banyak dan mereka siap mengambil alih beberapa pekerjaan kita.

Apalagi revolusi teknologi tidak bisa dibendung dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Lalu apa solusinya? Tentu kita, para manusia, harus tetap bisa bertahan dan mampu bersaing di masa depan.

Caranya, mudah. Semua terletak pada pendidikan yang kita akan ambil. Gelar sarjana apa yang Anda miliki.

Oleh karena itu, berikut 5 gelar sarjana yang akan hilang dengan kedatangan teknologi dilansir womensarticle.com.

5 gelar sarjana yang akan hilang karena kedatangan teknologi

1. Gelar akuntansi

Akuntan diperlukan di setiap perusahaan. Namun sekarang sudah banyak perusahaan yang menggunakan jasa akuntan online.

Seperti Turbotax to H&R Block yang mengatur pajak secara online.

Alternatif yang baik untuk gelar ini adalah jangan mengambil akuntan pajak.

Ambilah bagian keuangan yang bisa lebih dinamis dalam karir Anda.

2. Gelar perhotelan dan pariwisata

Banyaknya mesin check-in, bisa membuat agen perjalanan dan agen hotel berkurang.

Tidak perlu mengambil jurusan ini jika Anda ingin bekerja di dunia perhotelan dan pariwisata

Sebab, sebagian besar industri ini dengan mudah digantikan oleh teknologi.

3. Gelar paralegal

Paralegal adalah pekerjaan yang membantu pengacara.

Pekerjaan ini dipakai di beberapa negara. Tapi paralegal bukanlah pengacara juga petugas pengadilan.

Kini, sebagian besar tugas paralegal dapat dengan mudah dilakukan oleh komputer dan online.

Jadi, tidak lagi memerlukan sentuhan manusia.

4. Gelar broadcasting

Dunia broadcasting selalu berubah-ubah.

Sebab, kehadiran teknologi tidak membuat televisi menjadi satu-satunya saluran berita utama.

5. Gelar farmasi

Tahukah Anda bahwa banyak toko obat yang mulai beralih ke ide pick up atau drop off?

Memang peracikan masih dilakukan oleh manusia.

Namun sebagian besar dunia farmasi akan berkurang.

Beberapa mulai memilih langsung menjadi dokter saja karena pekerjaan ini tidak pernah tergantikan.

Melindungi Privasi Siswa di Media Sosial

0

Media sosial adalah bagian yang semakin penting dalam kehidupan siswa. Menurut sebuah studi baru-baru ini oleh Common Sense Media, rata-rata remaja menghabiskan lebih dari satu jam sehari menggunakan media sosial , dan hanya 3 persen dari waktu remaja dan remaja yang online berfokus pada penciptaan vs konsumsi. Untuk menjadi warga digital sejati, siswa membutuhkan guru yang memodelkan penggunaan media sosial yang pro sosial, kreatif, dan bertanggung jawab.

Jadi mengapa hanya satu dari 10 guru yang menggunakan media sosial secara profesional ? Bekerja di lingkungan sekolah dan menangani masalah-masalah mulai dari kepatuhan terhadap Hak-hak Pendidikan Keluarga dan Kepatuhan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap menyebarnya pembuatan berita hoak yang dapat menjadi hal yang menakutkan dan membingungkan. Tak heran banyak guru menghindari pertanyaan ini sama sekali. Faktanya, 81 persen guru yang disurvei dalam penelitian di atas mengungkapkan kekhawatiran tentang kemungkinan jebakan yang timbul dari pencampuran kerja profesional dengan media sosial.

Tapi ada banyak keuntungan: Banyak guru menggunakan media sosial untuk berbagi praktik terbaik, memberikan audiensi otentik untuk pekerjaan siswa, menumbuhkan nasionalisme kewarganegaraan digital di antara siswa mereka, dan membangun komunitas sekolah yang lebih terhubung. Setiap risiko terhadap privasi siswa dapat dikelola dengan informasi, penggunaan yang disengaj