fbpx

7 Tips Untuk Membantu Membuat Pembelajaran Daring Lebih Efektif

Agar berhasil, Pembelajaran Daring membutuhkan banyak hal yang sama dengan yang dilakukan dalam pembelajaran tatap muka: kejelasan, ulasan, memeriksa pemahaman, umpan balik yang cepat. Namun jarak menambah tantangan tambahan, dan mudah-mudahan tips ini dapat membantu.

Transisi mendadak dunia pendidikan dari belajar di sekolah berpindah ke rumah membuat semua sistem pembelajaran berubah. Beberapa pengajar mengirim file-file saja, sementara yang lain memastikan siswa memiliki perangkat, WiFi, dan kurikulum online yang koheren. Namun juga beberapa institusi merancangnya dengan lebih serius, tidak hanya menyiapkan rencana untuk siswa mereka sendiri tetapi juga memberikan akses gratis kepada publik. Beberapa penyedia kurikulum berkualitas tinggi juga menyediakan materi online gratis.

Tetapi bahkan dalam keadaan terbaik, Pembelajaran Daring dapat mengintensifkan tantangan yang melekat dalam pembelajaran tatap muka. Penelitian telah menunjukkan bahwa pembelajaran online umumnya tidak berfungsi sebaik instruksi tradisional — dan bahwa siswa yang sudah berjuang untuk belajar mungkin akan paling dirugikan. Namun, dalam minggu terakhir beberapa pakar dan guru telah memberikan tutorial, workshop bahkan pelatihan yang dapat membantu Pembelajaran Daring seefektif mungkin.

Berikut 7 tipsnya dari pengalaman penulis.

1. Ajak siswa untuk berpartisipasi.

Tantangan awal adalah memotivasi siswa untuk datang atau menyelesaikan tugas. Beberapa guru melaporkan bahwa kurang dari separuh siswa mereka secara teratur berpartisipasi dalam pembelajaran jarak jauh. Di bebwrpa sekolah, sepertiga siswa sekolah menengah tidak masuk. Masalahnya terutama di kalangan siswa dari keluarga kurang mampu dalam ekonominya, sebagian yang lain karena mereka sering kurang memiliki akses jaringan internet yang handal.

Tip pertama adalah buat tujuan dan harapan jernih dan menarik untuk siswa. Guru harus menentukan kapan siswa harus muncul dan tugas apa yang harus mereka selesaikan. Tekankan bahwa belajar mereka ubtuk mencapai sesuatu, akan lebih baik bila dikaitkan dengan contoh proyek atau produk yang dapat dihasilkan dari apa yang mereka pelajari.

Akan lebih baik juga memastikan lebih banyak siswa yang hadir daripada siswa yang mengerjakan tugas. Ini juga membantu memastikan bahwa siswa memiliki rencana yang jelas untuk kapan dan di mana mereka akan terlibat dalam pekerjaan sekolah.
Idealnya, berpartisipasi dalam pembelajaran jarak jauh akan menjadi kebiasaan — meskipun itu mungkin membutuhkan waktu; rata-rata, menurut pengalaman; butuh 2 bulan untuk membentuk kebiasaan.

2. Fokus pada konten

Bukan keterampilan pemahaman. Begitu siswa muncul, pertanyaan berikutnya adalah apa yang diajarkan. Jika memungkinkan, guru harus menahan dalam menerangkan. Berjam-jam menghabiskan waktu mendengarkan guru menjelaskan, ini akan membuat terputus dari konten, sebagian besar terbuang. Berfokus pada topik yang dikaitkan dengan hasil dan implementasi nyata di sekitar kita. Eksplorasi, pencarian, menemukan dan menyelesaikan suatu masalah meski menghabiskan setidaknya beberapa minggu untuk suatu topik — jauh lebih mungkin untuk membangun pengetahuan dan kosa kata yang sangat penting untuk dipahami.

Sebagai contoh dalam pengajaran bahasa, daripada meminta siswa berlatih “menemukan ide utama” pada petikan suatu paragraf, lebih baik jika guru mengajukan pertanyaan yang membuat anak-anak berpikir secara mendalam tentang cara kerja sesuatu atau tata surya — atau konten substantif apa pun yang termasuk dalam kurikulum. Dan sebelum melompat ke pertanyaan yang memerlukan analisis, guru perlu memeriksa bahwa siswa memiliki pemahaman literal tentang materi pelajaran dengan bertanya, misalnya, “Apa itu binatang nokturnal? … Apa bedanya mereka dengan jenis binatang lain? ”

Salah satu cara yang mungkin untuk membuat siswa tertarik, dan membangun pengetahuan mereka, adalah dengan mengajarkan tentang pandemi saat ini. Para siswa mungkin tidak pernah lebih terlibat daripada sekedar mendengar perkembangan dan berita. Tetapi guru mungkin ingin mengevaluasi tingkat kecemasan siswa mereka sebelum mempelajari pandemi ini atau yang lainnya. Sebagai contoh seorang guru sejarah sekolah menengah yang berpikir untuk memasukkan sebuah unit pembelajaran tentang wabah pes dan bagaimana perkembangannya hingga hari ini.

3. Tetap sederhana.

Arahan dan harapan yang sederhana dan jelas selalu penting, tetapi tidak pernah lebih daripada dalam situasi di mana guru tidak dapat dengan mudah mengukur ketika siswa mengalami kebingungan. Beberapa pertimbangan bersifat logistik: cobalah untuk tidak menggunakan terlalu banyak aplikasi atau platform yang berbeda pada rutinitas kelas yang berbeda. Di sisi substantif, penting untuk berhati-hati dalam memperkenalkan materi baru. Pembelajaran jarak jauh umumnya paling baik untuk ditinjau. Para guru perlu berkonsentrasi untuk memperkuat apa yang telah dipelajari siswa, jangan sampai mereka melupakannya.

4. Hubungkan konten baru ke yang lama dan berikan contoh.

Tentu saja, mengingat situasi ini kemungkinan akan berlangsung ulama, guru pasti perlu membawa materi baru. Seperti halnya pengajaran di kelas, yang terbaik adalah menghubungkan informasi baru dengan apa yang telah dipelajari siswa — atau, jika mereka lupa konteks yang akan membantu mereka memahami dan mengingat materi baru, beri tahu mereka di mana mereka dapat menemukannya. Faktor terpenting dalam mempelajari hal-hal baru adalah apa yang sudah diketahui.

Ketika memperkenalkan konsep atau keterampilan baru, guru harus memberikan contoh kepada siswa. Mereka mungkin menunjukkan kepada anak-anak masalah matematika yang sudah diselesaikan atau video di mana mereka menunjukkan bagaimana menyelesaikannya, menjelaskan apa yang mereka lakukan dan mengapa.

5. Bagikan informasi baru dalam waktu singkat.

Ini hal terbaik untuk membatasi jumlah informasi baru yang diperoleh siswa dalam satu sesi. Menurut beberapa penelitian, keterlibatan siswa turun secara signifikan ketika video bertahan lebih lama dari sembilan hingga dua belas menit. Daripada kelas online 45 atau 60 menit, sediakan segmen tidak lebih dari 15 atau 20 menit, terutama jika materi pelajarannya baru atau usia siswa lebih muda. Memecah informasi dan menyampaikannya dalam sesi yang lebih singkat — dan kembali ke poin yang sama di kemudian hari — mengambil keuntungan dari apa yang oleh psikolog disebut “efek penspasian” atau praktik terdistribusi, yang mendorong pembelajaran.

6. Jadikan pembelajaran online seinteraktif mungkin.

Siswa memerlukan kesempatan tidak hanya untuk mendengarkan atau membaca tetapi untuk secara aktif memproses informasi yang disajikan. Beberapa platform memungkinkan guru untuk memberikan kuis singkat dan mendapatkan hasil langsung. Bahkan jika para guru tidak memiliki pilihan itu, meminta siswa memeriksa sendiri secara berkala atau menjawab pertanyaan tentang kapan, apa, di mana, atau mengapa sesuatu terjadi adalah suatu bentuk praktik pengambilan, yang membantu siswa menyerap dan mengingat materi. Sebagai contoh praktek, seorang guru bahasa Inggris sekolah menengah, membuat rekaman dirinya membacakan teks kelas dengan keras dan secara berkala meminta siswa untuk menghentikan video untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya. Idealnya, guru tidak hanya akan bertanya tetapi mendengar atau melihat jawaban — dan jika mereka salah, berikan siswa jawaban yang benar atau bimbing mereka untuk mengetahuinya

7. Seimbangkan pembelajaran sinkron dan asinkron.

Pembelajaran jarak jauh dapat dilakukan baik secara sinkron, dengan semua orang online pada waktu yang sama, atau secara tidak sinkron, dengan siswa mengakses pelajaran yang sama di waktu yang berbeda. Pelajaran sinkron lebih sulit untuk direkayasa dan tidak memungkinkan banyak waktu untuk latihan, tetapi penting untuk menyertakan setidaknya beberapa saat ketika seluruh kelas sedang online bersama. Tidak hanya itu memungkinkan umpan balik guru yang cepat, itu memungkinkan guru dan siswa untuk menjaga koneksi dan merasa menjadi bagian dari kelompok — yang sekarang lebih penting daripada sebelumnya. Dan dengan usia siswa yang lebih muda, meminta orang tua untuk mengawasi pembelajaran asinkron bisa menjadi masalah tersendiri, sebab orang tua juga memiliki beberapa keaibukan lain. Mungkin tidak sepenuhnya live di kamera namun atur kapan liblve, kapan eksplorasi, kapan bekerja kelompok, kapan mengerjakan kuis lalu live kembali.

Meskipun tidak mungkin menerapkan semua kiat ini, namun setidaknya dapat membantu. Dan ketika kita belajar lebih banyak tentang cara kerja pembelajaran jarak jauh, kita dapat mencoba melakukannya dengan lebih baik — karena bahkan setelah krisis saat ini berakhir, kita mungkin perlu melakukannya lagi, bahkan mingkin dapat meringankan beban para guru.

PEMBELAJARAN BERMAKNA | Teknik Pembelajaran New Normal menggunakan Alat Google di Classroom

Strategi pembelajaran bermakna – Analisis terhadap kegiatan pembelajaran mutlak dilakukan oleh setiap guru. Analisis dilakukan terhadap proses pembelajaran maupun hasil belajar yang diperoleh siswa.

Pengelolaan pembelajaran bertujuan menciptakan suasana belajar yang efektif dan efisien dalam rangka mencapai prestasi belajar siswa yang optimal. Hal ini bukanlah pekerjaan yang ringan dan mudah bagi guru. Banyak indikasi yang menunjukkan sulitnya untuk mengelola pembelajaran.

Pada artikel ini disertakan presentasi Teknik Pembelajaran bermkna menggunakan alat Google. Berikut bisa dipelajari

Agar prinsip belajar bermakna bagi siswa dapat berjalan dengan baik, berikut ini ada 5 hal pokok yang harus diperhatikan oleh guru.

1.Sikap mengajar
Prinsip belajar bermakna bagi siswa dalam pembelajaran menuntut adanya sikap demokratis dan simpati dari guru. Hal ini akan menjadi senjata ampuh bagi guru untuk menarik perhatian siswa untuk mengikuti pelajaran.

Sikap demokratis dan simpati terwujud dalam keterbukaan guru mengelola pembelajaran. Guru bersikap terbuka untuk menanggapi segala masalah yang dihadapi dalam pembelajaran dan dan berusaha memecahkan persoalan tersebut dengan bijaksana.

Sikap simpati dan bijaksana akan terlihat dari sikap dan gaya bicara seorang guru dalam mengajar.

2.Penguasaan materi pelajaran
Untuk dapat membimbing siswa belajar kreatif, guru hendaknya menguasai materi pelajaran dengan baik. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran tidak berjalan tersendat-sendat dan menimbulkan keraguan pada diri siswa akan kebenaran materi pelajaran.

3.Penggunaan metode mengajar
Metode mengajar yang baik adalah metode yang relevan dengan materi pelajaran yang dibahas dan cenderung mengaktifkan siswa dalam belajar. Relevansi metode mengajar dengan materi pelajaran akan menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien.

4.Penggunaan media dan sumber belajar
Media belajar adalah alat bantu mengajar yang terdiri dari charta, model dan sejenisnya. Dengan menggunakan media yang tepat dan sesuai akan memudahkan siswa dalam menerima pelajaran yang sulit. Penggunaan media yang ditampilkan harus menarik minat dan perhatian siswa.

Sumber belajar terdiri dari buku, majalah, surat kabar dan lain sebagainya. Semuanya adalah sumber informasi yang berhubungan dengan materi pelajaran. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator dan memberi kemudahan kepada siswa dalam menemukan sumber informasi belajar yang tepat.

Misalnya memberikan daftar buku referensi yang sesuai dengan materi pelajaran.

5.Pengaitan informasi
Mengaitkan materi pelajaran dengan pengetahuan dan pengalaman siswa sehari-hari akan merangsang kemauan dan keinginan siswa untuk belajar. Sebagai contoh saja, mengaitkan informasi kecepatan gerak benda dengan kecepatan sepeda motor atau mobil. Benda ini sudak akrab dalam kehidupan sehari-hari siswa ketimbang kereta api atau pesawat jet.

KISAH HARU ‘MAHA’NYA MAHASISWA IPB YANG HILANG 15 TAHUN BARU KEMBALI KE KAMPUS.

Dia masih menjadi mahasiswa IPB saat menghilang lima belas tahun silam di Pulau Seram, Maluku, Dia kembali ke kota hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh. Tapi, dia disambut bak seorang pahlawan yang baru saja kembali dari medan laga. Dia dielu- elukan segenap penjuru.

Kisahnya menitikkan haru. Dia diabadikan dalam puisi. Dia seperti sungai yang tak henti mengalirkan inspirasi.

Hari itu, 22 September 1979 di Hotel Salak, Bogor. Lelaki berkulit legam itu dikelilingi teman-temannya. Dia hanya mengenakan sandal jepit. Temannya membawakan sepatu dan jas untuknya. Dia menolak memakainya. Namun, temannya bersikeras. Lelaki itu, Muhammad Kasim Arifin, serupa anak yang hilang. Dia yang lahir di Langsa. Acch, 18 April 1938 itu adalah mahasiswa yang kembali setelah 15 tahun.

Teman- temannya sudah lama sarjana dan banyak yang sudah menjadi pejabat. Kasim hanya seorang petani yang bersahaja. Tapi dia Justru jauh menjulang dibandingkan semua orang.

Tahun 1964, dia hanya seorang mahasiswa biasa yang mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa, yang sekarang bernama Kuliah Kerja Nyata.

Di masa itu, mahasiswa harus siap ditempatkan di pelosok negeri. Kasim mendapat lokasi di Waimital, Pulau Seram, Maluku.

Dia pun mendatangi daerah terpencil itu sebab didorong hasrat untuk membumikan semua pengetahuannya. Di Waimital, dia bertemu keluarga petani miskin yang datang melalui program transmigrasi.

Nuraninya terketuk. Dia ingin berbuat sesuatu. Dia menanggalkan semua identitas kota pada dirinya. Dia memakai sandal jepit dan baju lusuh. Dia ikut menemani petani yang berjalan kaki 20 kilometer menuju sawah. Dia melakukannya setiap hari dan bolak-balik. Dia membantu petani untuk mengolah tanah. Diajarkannya pengetahuan yang didapatnya di kampus IPB.

Dia membantu masyarakat untuk membuka jalan desa, membangun sawah baru, membuat irigasi. Dia tidak menunggu bantuan dari pemerintah. Dia membangkitkan semangat masyarakat untuk bergotong-royong.

Kasim peduli pada petani lebih dari dirinya sendiri. Dia pun mendapat kasih sayang dari semua orang.

Dia disapa Antua, sebutan bagi orang yang dihormati di Waimital. Kasim begitu larut untuk membantu masyarakat, sampai-sampai dia lupa pulang. Seharusnya dia di Waimital hanya tiga bulan. Tapi dia merasa tugasnya belum selesai. Bahkan saat semua teman-temannya pulang, dia tetap menjadi petani. Bahkan semua temannya telah diwisuda, dia masih setia di kampung itu. Hingga semua temannya lulus dan menjadi pejabat, dia tetap memilih di kampung itu hingga 15 tahun.

Di Aceh, orang tuanya memanggil. Dia bergeming. Bahkan Rektor IPB, Profesor Andi Hakim Nasution, memanggilnya kembali, dia masih juga bergeming. Tak kurang akal, Rektor IPB lalu mengutus Saleh Widodo, seorang teman kuliah Ķasim, untuk menjemputnya di sana. Dengan berat hati, Kasim bersedia ke Jakarta, lalu Bogor, hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh.

Kampus memanggilnya untuk menyelesaikan studi. Kasim sejatinya tak butuh gelar akademik, tapi dia tak kuasa menolak permintaan teman-temannya. Dia mengaku tidak sanggup membuat skripsi.

Teman-temannya berinisiatif untuk merekam kisahnya di Waimital untuk diajukan sebagai skripsi. Dia bercerita selama 28 jam. Temannya mencatat cerita itu dengan mata basah. Semua terharu. Kasim adalah potret manusia yang melampaui dirinya. Dia bukan seperti kebanyakan orang yang hanya berpikir untuk kuliah lalu bekerja, mengumpul harta, kemudian hidup bahagia.

Dia menemukan bahagianya dengan cara lain. Saat dia melihat petani tersenyum, hatinya mekar. Selagi senyum itu belum hadir, dia akan menganggap tugasnya jauh dari kata selesai. Dia lebur bersama masyarakat. Mulanya dia datang sebagai Kasim, mahasiswa IPB yang penuh pengetahuan. Setelah 15 tahun, dia menjadi bagian dari masyarakat.

Dia tak lagi ingin sesegera mungkin lulus, kemudian menyandang toga dan bekerja di instansi pemerintahan. Dia ingin membantu semua petani untuk sejahtera melalui tindakan memuliakan bumi, menghargai lumpur, lalu mengolah tanah-tanah pertanian. Dia mencintai tunas yang tumbuh lalu mekar jadi tanaman.

Hari itu, Kasim memasuki gedung IPB untuk wisuda. Mulanya dia ragu-ragu dan takut melihat banyak orang berdatangan, Semalaman dia tak bisa tidur di Hotel Salak karena pendingin udara dan suara bising di jalanan.

Di acara wisuda, dia ingin duduk di kursi belakang. Namun begitu dia datang, semua orang berdiri dan bertepuk tangan. Dedikasinya membuat banyak orang merinding. Dia adalah insinyur pertanian paling istimewa, paling menyentuh hati, dan paling menjulang dibandingkan yang lain.

Lelaki muda itu tetap Kasim yang bersahaja. Bahkan setelah wisuda pun, dia kembali ke Waimital demi meneruskan kerja-kerjanya. Setelah beberapa waktu, barulah dia menerima pinangan Universitas Syiah Kuala, Aceh, untuk menjádi dosen di sana hingga pensiun pada tahun 1994. Di Waimital, namanya selalu harum, bahkan diabadikan menjadi nama jalan.

Di tahun 1982, Kasim mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah untuk jasa-jasanya membangun masyarakat desa déngan wawasan lingkungan hidup. Kasim yang tidak gila pada penghargaan, “membuang” kalpataru itu di bawah kursi dan eninggalkannya begitu saja, hingga akhirnya seseorang mengantarkan kalpataru itu ke rumahnya. Bahkan penghargaan pun bukan menjadí tujuannya.

Ketika mendapat tawaran untuk study banding ke Amerika serikat, dia menolak. “Untuk apa saya harus ke Amerika yang punya tradisi pertanian berbeda dengan disini?” Katanya.

Dia selalu menjadi Kasim yang menginspirasi. Kisah hidupnya ditulis ke dalam buku berjudul Seorang Lelaki Dari Waimital yang ditulis Hanna Rambe di tahun 1983, dan diterbitkan Sinar Harapan.

Seusai pensiun, dia tetap di Aceh dan menjadi aktivis lingkungan. Di masa kini, betapa sulitnya menemukan anak muda yang masih idealis seperti dirinya. Anak muda hari ini berlomba-lomba untuk masuk dunia bisnis, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu masuk ke lingkaran istana, entah sebagai staf milenial atau sebagai staf menteri. Bahkan para akademisi muda bermimpi jadi dirjen, staf khusus menteri, atau jadi pejabat di BUMN.

Kasim adalah oase yang serupa mata air selalu menjadi telaga inspirasi yang tak mengering.

Saat dia diwisuda di tahun 1979, salah seorang rekannya penyair Taufiq Ismail, menulis puisi yang mengharukan tentang Kasim.

Salah satu baitnya berbunyi:

Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital, Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku iadi ingat masa kita diplonco dua puluh tahun lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami…
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.

Sumber:
http://www.timur-angin.com/

Sukses terus Petani Indonesia!

Mengenal Konsep Studysaster, Cara Kreatif Guru Bantu Cegah COVID-19

Ketua Tim Siaga Bencana SMP Negeri 01 Batu, Jawa Timur, Zakki Fitroni berbagi konsep untuk guru guna berkontribusi dalam pencegahan COVID-19 melalui pembelajaran yang kreatif. Konsep yang dijabarkan melalui laman guruberbagi.kemendikbud.go.id tersebut bernama Studysaster.

Nama Studysaster diambil dari akronim “study” yang dalam bahasa Indonesia berarti belajar, dan “disaster” berarti bencana. Model pembelajaran ini akan memudahkan guru untuk mengintegrasikan pendidikan bencana kesehatan Covid-19 dalam kegiatan pembelajaran.

Harapan dari model pembelajaran ini siswa mampu mengedukasi dirinya sendiri maupun orang lain tentang Covid-19 dari hasil karya pembelajaran berupa puisi, cerpen, video, foto, poster, komik atau lainnya. Tentu dengan bimbingan secara daring oleh guru pengampu setiap mata pelajaran.

Di masa Covid-19 ini, memang yang paling terasa dalam dunia pendidikan adalah kegiatan belajar mengajar harus dilakukan di rumah, sebagai efek kebijakan physical distancing. Pada dasarnya dengan belajar dan berdiam diri di rumah, peserta didik sudah berkontribusi dalam menekan penyebaran Covid-19, tetapi bukan berarti mereka tidak punya kesempatan untuk memberikan sumbangsih lainnya. Begitu juga guru, walaupun harus mengajar dari rumah, guru bisa berkontribusi dalam pencegahan Covid-19 dengan mengintegrasikan pendidikan tentang bencana kesehatan dalam pembelajaran.

Disitulah model pembelajaran Studysaster melakukan perannya. Model pembelajaran Studysaster dapat didefinisikan sebagai sebuah tahapan pembelajaran yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar, untuk memaksimalkan pengintegrasian pendidikan kebencanaan (pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana) dalam kegiatan pembelajaran. Model ini mempunyai 6 langkah pembelajaran sebagai berikut:

Identification/Identifikasi

Pada langkah mengidentifikasi, peserta didik bersama dengan guru mempelajari dan berdiskusi tentang definisi maupun jenis-jenis bencana yang ada dan penyebab terjadinya bencana. Yaitu bencana kesehatan Covid-19 yang kita alami saat ini. Berdiskusi tentang deskripsi kondisi tempat tinggal, lingkungan tempat tinggal, dan model pembelajaran Studysaster melalui media daring. Dari diskusi tersebut peserta didik dengan bimbingan guru mampu melakukan identifikasi risiko bencana kesehatan Covid-19 pada dirinya sendiri, maupun orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya.

Search/Mencari

Peserta didik melihat contoh-contoh pekerjaan atau tugas pembelajaran tentang bencana kesehatan Covid-19 di internet atau sumber lain yang relevan, sembari terus berdiskusi melalui media daring seperti grup WhatsApp, Zoom atau Google Classroom. Kegiatan tersebut akan memberikan stimulus dalam mencari dan memahami konsep memvisualkan/menuliskan ide sehingga menjadi sebuah karya yang dapat mengedukasi orang lain tentang Covid-19 bisa berupa poster, komik, video, musik, puisi, cerpen atau karya hasil pembelajaran lainnya. Dilanjutkan mencari langkah atau teknik pembuatan karya tersebut melalui Google, YouTube, buku maupun sumber lain yang relevan.

Plan/Merencanakan

Setelah peserta didik melakukan proses mencari referensi maka akan muncul ide/imajinasi awal untuk membuat konsep, pesan, tema dan visual yang akan dituangkan dalam sebuah karya hasil pembelajaran. Ide tentang karya kebencanaan kesehatan Covid-19 yang masih abstrak tersebut kemudian divisualkan/dituliskan dalam bentuk sketsa kasar atau kerangka tulisan, sebagai acuan dalam membuat karya pembelajaran.

Create/Mencipta

Setelah menemukan ide/pesan dan rencana karya yang akan dikerjakan, maka peserta didik mulai memvisualkan/menuliskan rancangan tersebut dalam media masing-masing. Jika tugasnya berupa pembuatan puisi, maka medianya dapat berupa tulisan buku atau soft file, tugas berupa poster maka medianya di buku gambar, tugas membuat vlog dapat menggunakan handphone dengan hasil file video dan sebagainya. Karya pembelajaran tersebut hasil akhirnya harus berupa file digital, sehingga yang masih dalam bentuk manual diubah menjadi digital, misalnya tugas membuat puisi di buku tulis dapat didigitalkan dengan diketik atau difoto.

Share/Membagikan

Langkah share/membagikan merupakan kegiatan untuk mengedukasi orang lain secara luas. Peserta didik membagikan karya pembelajaran tentang bencana kesehatan Covid-19 yang dibuatnya kepada orang lain secara konvensional atau online. Peserta didik dapat mendiseminasikan karyanya secara langsung kepada orang-orang di rumahnya, juga membagikan karyanya melalui akun media sosial mereka seperti Facebook, Instagram, Twitter, Blog atau YouTube. Sehingga dapat dilihat, dibaca dan mempengaruhi orang lain untuk ikut melakukan pencegahan Covid-19 dalam cakupan yang lebih luas tanpa harus melakukan pertemuan/kontak fisik.

Practice/Mempraktikkan

Karya pembelajaran tentang bencana Covid-19 tersebut wajib untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar yang mereka lakukan tidak hanya pada tataran konseptual saja. Seperti ketika membuat karya poster tentang langkah mencuci tangan yang baik dan benar, maka peserta didik harus melakukan cuci tangan sesuai yang sudah disampaikan dalam posternya. Selanjutnya kegiatan tersebut didokumentasikan berupa foto untuk dilaporkan ke guru sebagai bukti dia sudah melakukan langkah practice/praktik.

Dengan Studysaster guru dapat berkontribusi nyata yang berdampak luas dalam pencegahan Covid-19. Satu guru akan membimbing banyak peserta didik untuk mengedukasi dirinya sendiri. Selanjutnya puluhan atau ratusan siswa tersebut akan mengedukasi orang di sekitarnya, juga masyarakat luas melalui media sosial yang mereka miliki. Dengan cara seperti itu guru sebagai salah satu komponen bangsa, dapat dipastikan mempunyai peran strategis dalam melakukan edukasi pencegahan dan menekan penyebaran Covid-19.

Transformasi Guru dan Pemimpin Sekolah

Indonesia bercita-cita menjadi negara maju pada 2045. Presiden Jokowi menegaskan, SDM unggul kunci utama mencapai cita-cita itu. Juga ditekankan pentingnya bekerja produktif dengan fokus kepada hasil (outcome) serta menjadikan inovasi sebagai budaya. Visi Presiden ini diterjemahkan Mendikbud Nadiem Makarim menjadi visi Merdeka Belajar.

Hal paling fundamental dari visi ini adalah fokus terhadap kualitas belajar murid. Semua program Kemendikbud harus bertujuan untuk tercapainya tumbuh kembang setiap murid secara holistik lahir dan batin sesuai kodrat alam dan zamannya.

Permasalahannya, ekosistem pendidikan telah lama terbelenggu oleh budaya kepatuhan yang tujuan utamanya adalah pemenuhan regulasi secara formal (compliance). Budaya kepatuhan ini perlu ditransformasi menjadi budaya inovasi dengan kualitas belajar murid sebagai tujuan utama setiap pemangku kepentingan.

Budaya kepatuhan ini perlu ditransformasi menjadi budaya inovasi dengan kualitas belajar murid sebagai tujuan utama setiap pemangku kepentingan.

Refleksi Kritis Sertifikasi Guru

Walaupun capaian pemelajaran bukan semata-mata tergantung guru, guru memegang peranan penting dalam kualitas proses dan hasil belajar murid. Berbagai penelitian menunjukkan, pengaruh signifikan kualitas guru terhadap hasil belajar murid.

Sesuai dengan UU No 14/2015, sertifikat pendidik dari program sertifikasi guru adalah sinyal kredensial utama bahwa seorang guru memiliki kompetensi yang baik. Sayangnya, dari berbagai studi empiris, kepemilikan sertifikat pendidik tidak menjadi jaminan kualitas kinerja guru di Indonesia.

Pada saat lebih dari Rp 500 triliun anggaran telah dikeluarkan untuk kebijakan sertifikasi guru sejak 2006, berbagai studi, termasuk studi randomized experiment berskala besar oleh Bank Dunia (2017), menyimpulkan bahwa program sertifikasi guru tak berdampak pada hasil belajar murid.

Dalam studi video asesmen internasional lainnya, yaitu TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) 2015 disimpulkan tak ada perbedaan praktik mengajar dan hasil belajar siswa antara guru-guru yang bersertifikasi dan guru tak bersertifikasi. Malah guru-guru bersertifikasi cenderung menggunakan pendekatan yang berpusat pada guru.

Hasil performa murid-murid Indonesia di sejumlah asesmen internasional, seperti PISA (Programme for International Student Assessment), juga tak mengalami peningkatan secara konsisten dan signifikan sejak diluncurkannya program sertifikasi guru di 2006. Bahkan, performa murid Indonesia menurun pada PISA 2018. Hasil yang kurang menggembirakan juga ditunjukkan pada AKSI (Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia) yang dilakukan Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud pada 2016 dan 2019.

AKSI 2016 memperlihatkan sebagian besar murid SD kelas V memiliki kemampuan rendah di bidang matematika (77,13 persen), membaca (46,83 persen), dan sains (73,61 persen). Sementara AKSI 2019 memperlihatkan sebagian besar murid SMP kelas IX memiliki kemampuan rendah di bidang matematika (79,44 persen), membaca (55,85 persen), dan sains (66,11 persen).

Malah guru-guru bersertifikasi cenderung menggunakan pendekatan yang berpusat pada guru.

Strategi Transformasi

Visi Merdeka Belajar bertujuan memberdayakan segenap pemangku kepentingan untuk melakukan perubahan dan menjadi agen perubahan dalam meningkatkan hasil belajar murid. Dalam visi ini, sekolah adalah unit inovasi yang paling utama.

Guru-guru yang berkomitmen tinggi dan memahami pemelajaran yang berpihak pada murid perlu didorong untuk menjadi pemimpin-pemimpin sekolah. Secara sosiokultural, Indonesia masih sangat dipengaruhi budaya feodal. Perubahan dalam budaya ini akan terjadi dengan lebih cepat dan sukses jika pemimpinnya adalah pemimpin yang transformatif.

Studi komparatif yang dilakukan melalui kolaborasi McKinsey & Company dan The National College for Leadership of Schools and Children’s Services di 2010 menyimpulkan, bentuk kepemimpinan yang sangat diperlukan untuk kesuksesan sekolah adalah kepemimpinan yang berfokus pada pengajaran, pembelajaran, dan manusia yang ada di sekolah.

Kepala sekolah harus mumpuni dalam kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership). Kepala sekolah harus memahami pembelajaran yang berorientasi pada murid. Ia juga piawai dan aktif dalam mengembangkan guru-guru di sekolah melalui coaching/mentoring. Pemilihan pemimpin sekolah adalah salah satu keputusan terpenting dalam sistem pendidikan.

Berbagai pemangku kepentingan di komunitas perlu bersinergi dalam peningkatan kualitas guru dan pemimpin sekolah. Pemerintah menjadi pemberdaya (enabler) kolaborasi. Sekolah yang sudah dapat menerapkan instructional leadership perlu bergerak untuk menjadi mentor bagi calon pemimpin sekolah dan sekolah lainnya. Inilah sekolah-sekolah penggerak.

Selain itu, komunitas/ organisasi pendidikan yang telah menjalankan model-model pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar murid perlu berdaya untuk mendorong terbentuknya sekolah penggerak.

Pendidikan profesi calon guru juga harus menghasilkan generasi guru baru yang berorientasi pada murid. Selain memiliki kompetensi untuk pengetahuan dan praktik profesional, guru generasi baru Indonesia yang kita cita-citakan harus berakhlak mulia, bernalar kritis, mandiri, kreatif, gotong royong, dan berkebinekaan global. Mereka memiliki renjana (passion) menjadi guru dan memandang anak dengan rasa hormat.

Pemilihan pemimpin sekolah adalah salah satu keputusan terpenting dalam sistem pendidikan.

Guru generasi baru berjiwa Indonesia dan merupakan pembelajar sepanjang hayat yang menguasai teknologi pemelajaran. Untuk itu, dibutuhkan revitalisasi pendidikan profesi guru yang fundamental dan komprehensif. Seleksi masuk harus berstandar tinggi yang menekankan bukan saja pada penguasaan konten, tetapi yang terpenting pada asesmen disposisi calon guru. Calon peserta pendidikan profesi guru memang memiliki kemauan kuat untuk menjadi guru, bukan karena motif lain, seperti karena ingin menjadi PNS.

Selain itu, diperlukan model-model alternatif dalam pendidikan profesi guru melalui ekspansi penyelenggara pendidikan profesi yang berkualitas dunia. Kurikulum pendidikan profesi guru perlu lebih berorientasi praktik pemelajaran yang berpusat pada murid.

Pengajarnya harus memiliki pengalaman mengajar di sekolah dan pemahaman konteks praktik pemelajaran berorientasi kepada murid. Ibarat di profesi kedokteran, tak mungkin seorang calon dokter bedah dibimbing oleh dokter yang tidak pernah melakukan operasi bedah di rumah sakit. Asesmen di pendidikan profesi guru harus menekankan pada kemampuan untuk praktik pemelajaran berorientasi pada murid dan kualitas refleksi.

Selanjutnya, budaya belajar guru dalam jabatan perlu diperkuat. Pusat pengembangan keprofesian guru dan pemimpin sekolah perlu dikembangkan di setiap provinsi. Pusat ini bersifat inklusif, menjadi tempat bertemunya berbagai pemangku kepentingan seperti guru, pemimpin sekolah, organisasi profesi, akademisi, penggiat dan komunitas pendidikan serta pemerintah.

Kebutuhan belajar guru difasilitasi secara relevan sesuai konteks tantangan praktik yang dihadapinya. Diperlukan diferensiasi pemelajaran guru untuk meningkatkan efisiensi dan dampak terhadap praktik pengajaran. Yang terpenting, semua guru dan pemimpin sekolah harus dapat mengembangkan kemampuan mengajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan murid (teach at the right level).

Asesmen di pendidikan profesi guru harus menekankan pada kemampuan untuk praktik pemelajaran berorientasi pada murid dan kualitas refleksi.

Akhirnya, semua upaya peningkatan kualitas guru dan pemimpin sekolah haruslah berpijak pada prinsip bahwa semua guru yang mengabdi harus mendapatkan penghasilan yang layak. Tidak boleh ada guru yang mendapat gaji di bawah standar minimum yang layak. Untuk mengatasi ini selain dibutuhkan penyelesaian masalah guru honorer dan perencanaan formasi guru yang lebih baik, Kemendikbud perlu melakukan dialog intensif lintas kementerian untuk mencari solusi efektif untuk menjamin kesejahteraan semua guru.

Regulasi dan Tata Kelola

Transformasi guru dan pemimpin sekolah ini membutuhkan pembenahan regulasi. Model kompetensi guru dan kepala sekolah yang saat ini bersifat stagnan perlu direvisi dengan pendekatan developmental (kontinuum). Jenjang karier guru dan pemimpin sekolah perlu diintegrasikan dengan tahap perkembangan dari perekrutan dan promosi guru sepanjang kariernya.

Tunjangan guru diarahkan untuk berbasis kinerja sehingga dapat memacu kualitas pengajaran secara konsisten. Tata kelola guru dan kepala sekolah antara pusat dan daerah perlu disinergikan lebih baik lagi terutama untuk memastikan diangkatnya pemimpin-pemimpin sekolah yang memiliki kemampuan sebagai pemimpin pemelajaran (instructional leader).

Transformasi guru dan pemimpin sekolah ini membutuhkan pembenahan regulasi.

Perwujudan ekosistem guru dan pemimpin sekolah yang profesional mensyaratkan pula ekosistem organisasi profesi yang kuat. Organisasi profesi harus jadi sumber inovasi yang memajukan ilmu, etika, dan kualitas layanan profesi guru. Yang terpenting, semua organisasi profesi harus memegang teguh asas yang dikumandangkan Ki Hajar Dewantara pada saat pendirian Taman Siswa hampir 100 tahun lalu.

”Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, tetapi untuk berhamba kepada sang anak.” Orientasi pada murid, atau ”berhamba pada sang anak” ini seyogianya menjadi orientasi utama semua pemangku kepentingan dalam transformasi guru dan pemimpin sekolah.
Transformasi guru dan pemimpin sekolah ini harus menjadi sebuah gerakan bersama, gerakan gotong royong. Menjadi guru harus menjadi sebuah kebanggaan.

Guru adalah sebuah profesi yang mulia dan terhormat. Status sosial ekonomi guru semestinya sama dengan profesional lain karena peran guru sangat penting dalam pembangunan bangsa. Guru adalah inspirasi dalam menyikapi perkembangan zaman. Guru adalah roh pergerakan bangsa menggapai cita-citanya. Guru adalah agen perubahan karakter warga negara. Mari bersama-sama bergerak dan berjuang menuju terciptanya guru dan pemimpin sekolah Indonesia berkelas dunia!

Status sosial ekonomi guru semestinya sama dengan profesional lain karena peran guru sangat penting dalam pembangunan bangsa. (*)

*oleh Iwan Syahril, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

sumber: Harian Kompas, 29 Mei 2020

8 Tips Orang Tua untuk Membuat Belajar di Rumah Fokus pada Pengembangan Diri Anak

Dengan siswa belajar di rumah karena ancaman coronavirus, media sosial dipenuhi dengan jadwal belajar dari sekolah kepada siswa dan ortu dirumah. Tetapi mereka telah berjuang untuk mengimplementasikan jadwal-jadwal itu — sebagian karena pendekatan terstruktur yang ketat dari waktu ke waktu di sekolah tradisional seringkali lebih berkaitan dengan pengendalian keramaian daripada mengoptimalkan pembelajaran.

Pergeseran tiba-tiba menjadi bekerja-dari-rumah mungkin memberikan semacam kejutan yang baik, membuka peluang emas bagi siswa untuk terlibat dalam pembelajaran yang otentik dan mendalam yang lebih mandiri, lebih menyenangkan, lebih selaras dengan perkembangan siswa dan jauh lebih mudah bagi orang tua untuk mengelola daripada tumpukan lembar kerja.

Memberi siswa beberapa pilihan atas pembelajaran mereka dapat membangun motivasi, kemandirian, dan kreativitas intrinsik . Siswa dapat menyelidiki masalah dunia nyata yang menarik bagi mereka, mencari solusi, atau membuat model atau menulis laporan yang memberdayakan mereka. Walaupun mungkin sulit di kelas konvensional yang terdiri dari 20-30 siswa, di rumah orang tua dapat memberikan anak-anak mereka lebih banyak fleksibilitas untuk memilih topik yang dipelajari, buku untuk dibaca, dan cara untuk menggunakan waktu mereka.

Dengan dimudahkan dari syarat kurikuler yang ketat di sebagian besar sekolah dimana terlalu banyak berfokus pada pengujian dan standarisasi — orang tua dapat memberikan waktu untuk eksplorasi mendalam, membangun keterampilan berpikir kritis dan setidaknya keinginan kritis untuk belajar yang akan mentransfer ke topik studi terkait .

MENJELAJAHI ILMU PENGETAHUAN

Untuk anak-anak, bermain adalah penemuan ilmiah. Melempar mainan, meremas spons, atau berputar-putar mengajarkan pelajaran fisika. Promosikan permainan gratis dengan mainan terbuka seperti balok, syal, selimut, dan kotak kardus. Buat percobaan sains dengan benda-benda rumah tangga. Siswa yang lebih tua dapat memimpin dalam melaksanakan percobaan dan kemudian menuliskan temuan mereka dalam laporan laboratorium.

Alam adalah jalur menuju eksplorasi ilmiah. Siswa dapat menghabiskan waktu di halaman belakang atau taman dan berbicara tentang apa yang mereka lihat: siklus air, ekosistem, dan rantai makanan. Kumpulkan bunga liar dan teliti nama mereka. Mulai jurnal pengamatan burung atau taman.

MEMAHAMI ILMU SOSIAL

Temukan buku tentang sejarah atau budaya yang ingin diteliti anak-anak Anda. Banyak perpustakaan setempat telah membuat katalog digital gratis selama krisis. Setelah anak-anak selesai membaca, tantang mereka untuk membuat pertunjukan boneka, poster, atau buku gambar yang merangkum apa yang telah mereka pelajari.

Teknik ini juga dapat digunakan untuk film atau pertunjukan. Model pertanyaan dan bahkan skeptisisme, yang sangat penting untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Tonton film bersejarah atau internasional bersama anak-anak Anda dan bicaralah sambil menonton. Tanyakan apa yang mereka pikirkan tentang apa yang terjadi, tunjukkan ketidakakuratan atau bias historis, dan perhatikan persamaan dan perbedaan antara budaya dalam film dan Anda sendiri.

MENGUASAI MATEMATIKA

Dalam matematika, seperti mata pelajaran lainnya, buat menjadi tetap sederhana. Anak kecil dapat berlatih berhitung atau sesuai fakta matematika dengan benda nyata seperti kancing atau koin. Memasak adalah cara hebat lainnya untuk mengajarkan matematika dunia nyata. Internalisasi seperti apa satu setengah cangkir tepung tampak meletakkan dasar untuk belajar pecahan. Praktek penggandaan dan pembagian dengan membagi dua atau menggandakan resep. Permainan papan menawarkan kesempatan lain untuk berlatih matematika dengan menghitung uang atau memindahkan sejumlah ruang tertentu.

BELAJAR SENI BAHASA INGGRIS

Dorong anak-anak membaca dengan mengizinkan mereka memilih buku mereka. Menjadikan membaca sosial lebih efektif daripada meminta sejumlah bacaan tertentu, jadi pertimbangkan untuk menyusun waktu membaca didalam keluarga dan kemudian bicarakan apa yang telah Anda baca. Berbicara dengan anak-anak Anda — tentang apa saja — adalah bermanfaat. Begitulah cara merancang untuk belajar bahasa.

Pembelajaran konsolidasi — tindakan mengkaji informasi untuk memperkuat konsep sehingga mereka bertahan untuk jangka panjang — tidak perlu rumit. Membahas apa yang Anda lakukan setiap hari dapat membantu memperkuat pengetahuan baru.

Jika anak Anda setidaknya berusia 3 tahun, cobalah beberapa instruksi membaca dini dengan Ajarkan Anak Anda untuk Membaca dalam 100 Pelajaran Mudah . Segala sesuatu yang perlu dikatakan atau dilakukan oleh guru ditulis dalam susunan tertulis 15 menit setiap hari, sehingga sangat cocok untuk orang tua yang sibuk.

Menulis adalah teknik dasar lain untuk meningkatkan pemahaman bahasa Inggris. Tantang anak-anak yang lebih besar untuk menulis buku gambar atau cerita pendek mereka sendiri. Mengajar tulisan tangan di media yang berbeda membuat anak-anak kecil tetap terlibat — coba gunakan spidol, krayon, atau cat, atau lacak huruf di baki pasir atau nasi.

MERANGKUL SENI

Seni visual meningkatkan fungsi dan kesehatan otak, musik meningkatkan daya ingat dan kecerdasan verbal . Semua seni mempromosikan pengembangan keterampilan motorik, kreativitas, dan pemecahan masalah. Dorong anak-anak untuk melukis, menggambar, memahat dengan adonan bermain buatan sendiri , atau melakukan kerajinan serat seperti membuat gelang persahabatan. Bahan-bahannya tidak perlu rumit — bahan dasar seperti lem, kertas, gunting, dan kotak kardus sudah cukup.

Musik adalah bidang utama lain untuk menjelajahi seni di rumah. Anak-anak dapat belajar lagu baru atau membuat sendiri, atau mengubah benda rumah tangga seperti kaleng tua menjadi alat musik. Bagikan album favorit Anda untuk pelajaran sejarah musik. Untuk anak-anak yang memainkan instrumen, cetak lembaran musik untuk lagu-lagu pop favorit, video game, dan animes, atau tawarkan pilihan dengan membiarkan mereka memilih karya klasik untuk belajar dari lebih dari 150.000 karya di domain publik . Jika Anda memiliki instrumen tua yang berdebu di lemari, mulailah band keluarga. Minta anak-anak untuk mengeksplorasi seni dramatis dengan merencanakan dan menampilkan pertunjukan boneka, bermain, atau menari.

MENEMUKAN WAKTU UNTUK BERMAIN DAN BERGERAK

Selama layar mati, anak-anak akan aktif, tetapi anak-anak yang lebih tua yang terbiasa “duduk dan menunggu” di sekolah mungkin membutuhkan dorongan. Cobalah latihan gerakan kecil di pagi hari bersama keluarga untuk memulai metabolisme Anda dan membuat hormon otak bahagia itu mengalir. Anak-anak dapat bertemu dengan teman untuk berolahraga bersama melalui online video. Berikan pilihan dengan membiarkan setiap anggota keluarga memilih dari latihan gratis online dalam joging, tarian, atau seni bela diri. Akhirnya, biarkan anak-anak memimpin keluarga dalam rutinitas latihan mereka sendiri.

BELAJAR KECAKAPAN HIDUP

Dengan lebih banyak orang di rumah, ada lebih banyak pekerjaan memasak dan membersihkan yang harus dilakukan. Melakukan pekerjaan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, keterampilan motorik kasar dan halus, dan etos kerja. Buat tugas-tugas yang menyenangkan untuk anak-anak dengan mendongeng imajinatif. “Kami bajak laut dan mainan ini adalah harta karun — siapa yang bisa mendapatkan harta paling banyak di peti harta karun?” atau “Seorang raksasa datang yang membenci lantai kotor. Jika kita tidak membersihkan ini sebelum dia tiba di sini, dia akan memakan kita! ” Anak-anak yang lebih besar sering kali termotivasi untuk melakukan pekerjaan jika Anda melibatkan mereka dalam proses tersebut. Adakan pertemuan keluarga untuk membuat daftar semua tugas yang harus dilakukan setiap hari dan bertukar pikiran tentang bagaimana Anda akan menyelesaikannya bersama.

LIHAT PELUANG

Jangan merasa terdorong untuk melakukan setiap hal setiap hari. Anak-anak dapat menghabiskan sepanjang hari melakukan satu atau dua kegiatan. Pembelajaran otentik terjadi dalam dunia nyata, konteks yang bermakna. Selama anak-anak bergerak, menciptakan, atau bermain, mereka belajar. Biarkan rasa ingin tahu dan kesenangan menjadi panduan Anda.

4 Kiat untuk Kepala Sekolah dalam Mengubah Sekolah Mereka menjadi Sekolah Online

Dengan sekolah ditutup selama berminggu-minggu di seluruh Indonesia, sampai akhir tahun sekolah – guna memperlambat penyebaran virus corona, kepala sekolah musti mengarahkan komunitas sekolah mereka ke wilayah yang belum dipetakan sebelumnya yaitu pembelajaran online.

Banyak sekolah bekerja cepat untuk menfasilitasi siswanya dengan pembelajaran online yang berkualitas tinggi dan efektif dalam waktu yang sangat singkat. Para pemimpin sekolah tidak hanya harus mendukung para guru mencari tahu bagaimana menerjemahkan kurikulum kelas menjadi pelajaran virtual yang menarik, tetapi juga memastikan bahwa semua siswa — termasuk mereka yang sulit dijangkau bahkan pada hari sekolah reguler dan mereka yang tidak memiliki akses data ke sekolah secara cepat. koneksi internet — untuk terus belajar dan terhubung dengan guru dan teman sebaya mereka. Pada saat yang sama, mereka harus memastikan bahwa siswa yang bergantung pada sekolah untuk layanan dan dukungan lainnya terus dapat menerima layanan ini.

Berikut adalah empat cara kepala sekolah dalam merencana dalam memimpin komunitas sekolah mereka dan mendukung para guru.

SELALU HADIR MENENANGKAN DAN MEMOTIVASI

Kepala sekolah atau pemimpin sekolah harus tetap berkepala dingin: Meyakini memiliki sumber daya yang bagus,  memiliki pendidik yang hebat. Mampu merencanakan terhadap situasi dan halangan yang ada didepan.

Sehari-hari bekerja untuk memastikan bahwa guru mengembangkan pelajaran berkualitas tinggi, menjawab pertanyaan tentang konten dan pengajaran, dan membantu memecahkan masalah di sepanjang jalan ketika guru mulai menggunakan platform digital yang sebenarnya hanya mereka gunakan untuk periode pendek. Namuni di luar tanggung jawab semua itu,  “kehadiran, keberadaan, menenangkan dan memotivasi sangat penting.”

JADILAH SUMBER INFORMASI

Selain menangani pertanyaan dari guru yang terkait dengan mengambil pelajaran online dan mengatasi masalah teknologi, penting bagi para pemimpin sekolah untuk mengambil peran sebagai kepala informasi untuk komunitas sekolah.

Kepala sekolah harus mencoba untuk tetap berhubungan setiap hari dengan siswa dan keluarga mereka sehingga dia secara teratur berkomunikasi — dengan cara yang tenang dan terukur — harapannya terhadap pembelajaran siswa. Menyampaikan bahwa “Sekolah ingin melanjutkan pembelajaran. Sekolah ingin tetap positif, bersabarlah dengan keadaan”. “Sekolah ingin mereka bersabar dengan cara belajar siswa. Karena Ini adalah pertama kalinya mereka online selama lebih dari lima hari berturut-turut. ”

DORONG GURU UNTUK MENGKONDISIKAN SEPERTI KEADAAN NORMAL KEPADA SISWA

Kepala sekolah membimbing gurunya dalam menciptakan kondisi pembelajaran untuk siswa yang mirip dengan keadaan sebelumnya, dengan melakukan hal-hal seperti menyapa siswa setiap pagi dengan pesan video dan membangun istirahat yang penuh perhatian. Tujuannya bukan untuk mereplikasi seluruh hari sekolah di rumah tetapi untuk memberi siswa perasaan bahwa mereka masih terhubung dengan komunitas sekolah.

Untuk membantu siswa terus mendapat manfaat dari beberapa struktur pendukung sekolah, mintalah guru untuk bertukar pikiran bagaimana membawa struktur itu ke rumah siswa — memberikan anak-anak akses ke “situasi menenangkan ” secara virtual seperti yang mereka miliki di ruang kelas, tempat yang nyaman di mana anak-anak dapat rihat selama beberapa menit untuk mengelola emosi mereka.

Mintalah guru olahraga sekolah atau para trainer untuk datang dan memberi latihan mandiri yang dapat dilakukan anak-anak di rumah.  Bisa jadi seperti dari mengatur pernafasan, merenggankan badan, melatih otot-otot karena kurang bergerak, dan aktivitas fisik lainnya. Sekolah harus mencari cara terbaik untuk menjaga pengalaman itu tetap berjalan ketika para siswa tidak ada di sini/disekolah secara fisik.

PASTIKAN GURU MERASA DIDUKUNG

Selenggarakan pertemuan guru dan staf online secara berkala, beri kesempatan guru bertanya kepada pemimpin sekolah tentang bagaimana mereka dapat memenuhi semua kebutuhan siswa yang berbeda. Sampaikan pula bahwa mereka akan melakukan yang terbaik untuk siswa, adalah bahwa para guru perlu terlebih dahulu menjaga kesehatan emosional mereka sendiri. Guru & staf hanya akan dapat membantu anak-anak jika berada di ruang emosional yang tepat dan baik. Jaga tekanan masalah di rumah saat dengan keluarga, dan pemimpin akan bekerja sama untuk membuat Pembelajaran Online bekerja dengan baik untuk anak-anak.

Sebagai kepala sekolah, tanggung jawabnya berkembang mengingat realitas kehidupan selama pandemi. Perannya berubah sepenuhnya menjadi penjaga harapan simbolis  Peran dalam komunitas ini adalah memastikan bahwa pemimpin sekolah berusaha mendapatkan apa pun yang mereka butuhkan, memiliki anggota staf yang merasa dipedulikan tentang mereka sebagai manusia dan sebagai keluarga, dan semua detail kehidupan profesional mereka akan terselesaikan.

4 Strategi untuk Bersiap Mengajar di Tahun Pelajaran Baru Penuh Tantangan

Covid-19 telah menjadikan tahun ajaran 2019-2020 tidak akan pernah kita lupakan. Tanpa pemberitahuan atau persiapan, para guru terpaksa berputar ke pengajaran online. Mereka tampil dengan gagah berani. Ini bukan hanya penilaian saya — itu adalah konsensus dari banyak siswa yang telah berbagi dengan saya pengalaman mereka belajar dari rumah melalui teknologi.

Namun, para siswa ini – dan guru-guru mereka – jauh kurang optimis tentang pembelajaran online, dengan keprihatinan nyata tentang kualitas dan efektivitasnya. Namun ketika Kemdikbud mulai merencanakan tahun akademik 2020–21, pembelajaran online kemungkinan besar akan memainkan peran penting dalam upaya pemulihan karena banyak daerah akan beralih ke sistem yang menggabungkan pembelajaran online dan langsung.

Ketika kita bergerak melampaui manajemen krisis untuk secara sengaja merencanakan sistem ini, kita dapat melihat antara keberhasilan dan masalah pengajaran online darurat. Empat rekomendasi berikut, yang mengacu pada pengalaman guru dan siswa yang saya ajak bicara, menawarkan strategi untuk dipertimbangkan.

DESAIN UNTUK MEDIA ONLINE

Bagi kebanyakan siswa, pengalaman pertama mereka ke dalam pembelajaran online adalah mengangkat masalah tentang kemajuan, struktur, dan kurangnya interaktivitas dan ketelitian, dan kadang-kadang membingungkan banyak saluran komunikasi dan pengajaran (Google Classroom, GMeet,WhatsApp, Zoom, YouTube, email, dan berbagai aplikasi). Sebagian besar dikarenakan tidak singkronnya pengalaman pembelajaran online dan konvensional atau saya sebut dengan ‘kesepian pengalaman”.

Teknologi saja tidak dapat membuat pembelajaran menarik, jadi dalam mengembangkan sistem online, sekolah perlu memetakan kurikulum mereka, memastikan artikulasi dan saling melengkapi antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online, dan secara sengaja merancang untuk kedua lingkungan ini, mencari keseimbangan antara:

  • kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media online dan melakukannya dengan sangat baik di ruang kelas,
  • pembelajaran sinkron dan asinkron,
  • struktur dan fleksibilitas, dan
  • kegiatan yang bisa dilakukan sendiri dan
  • yang terbaik dilakukan dengan orang lain.

Seperti biasa, guru akan ingin mencari tahu apa yang akan dipelajari siswa dari guru, dari konten, dari kegiatan, dan dari satu sama lain. Untuk memastikan bahwa semua komunikasi dan pengajaran konsisten dan koheren, sekolah mungkin perlu beralih ke sistem manajemen pembelajaran di mana semua konten, diskusi, penilaian, dan konferensi web dapat disimpan.

Untuk siswa yang saya wawancarai tentang pengalaman mereka belajar online, kelas online yang dirancang dengan baik akan mencakup beberapa elemen desain:

Pembelajaran “sentuhan tinggi”: melibatkan kegiatan yang lebih kolaboratif dan interaksi yang sinkron dengan guru dan teman sekelas.

Interaktivitas yang lebih baik: game, simulasi berbasis web, dan video interaktif — dan lebih sedikit lembar kerja.

Pembelajaran yang dipersonalisasi: serangkaian kegiatan yang membahas keterampilan, kemampuan, minat, dan situasi rumah siswa — mulai dari kotak pilihan hingga jalur pembelajaran yang dipersonalisasi hingga proyek individual.

Kegiatan yang lebih menantang: proyek dan kegiatan yang mengatasi tantangan dunia nyata dan melibatkan siswa yang menciptakan versus hanya mengonsumsi informasi.

PERSIAPKAN GURU UNTUK INSTRUKSI ONLINE

Satu manfaat positif dari pengajaran online darurat adalah bahwa banyak guru belajar bagaimana menggunakan teknologi dengan cara otentik dengan bereksperimen di lingkungan yang relatif berisiko rendah. Meskipun mempelajari keterampilan baru, dan kenyamanan mereka menggunakan teknologi sebagai bagian dari pengajaran tatap muka, beberapa guru yang saya ajak bicara masih membutuhkan persiapan yang jauh lebih banyak untuk mengajar secara online. Seperti salah satu kata mereka “Mengajar tatap muka dengan teknologi adalah seperti permainan bola yang sangat berbeda. Dimana setiappertandingan membutuhkan strategi yang berbeda ”

Selain menggunakan teknologi online (misalnya, sistem manajemen pembelajaran atau aplikasi konferensi web), dan memilih teknologi berbasis web yang sesuai untuk meningkatkan pembelajaran siswa, guru perlu lebih banyak dukungan dalam mempelajari cara mengelola peserta didik dari jarak jauh dan dalam sesi langsung. Mereka juga membutuhkan pelatihan dalam teknik penilaian online dan cara-cara untuk berkomunikasi dan memfasilitasi pembelajaran online, terutama dengan siswa yang paling rentan.

Untuk mengajar dengan baik secara online, guru perlu mengembangkan repertoar pedagogi online yang melibatkan campuran:

  • Instruksi langsung: mentransmisikan informasi tentang konsep, keterampilan, dan prosedur melalui demonstrasi, ceramah, screencast, video, atau presentasi online.
  • Model pembelajaran kognitif: kegiatan terstruktur yang tidak hanya menempatkan informasi di kepala siswa tetapi juga mengeluarkan pengetahuan — penalaran induktif, pertanyaan terbuka, eksperimen, strategi metakognitif, dan pemecahan masalah.
  • Model pembelajaran sosial: metode pembelajaran kolaboratif yang masih bisa kita gunakan dalam pembelajaran online — pendekatan jigsaw, pengajaran timbal balik, diskusi, debat, dan bimbingan teman sebaya.

Di atas segalanya, guru akan membutuhkan bimbingan dan strategi untuk membangun rasa kehadiran emosional, kognitif, dan pengajaran sehingga siswa merasa terhubung dan menjadi bagian dari komunitas pembelajar online.

MEMPERSIAPKAN SISWA UNTUK BELAJAR ONLINE

Untuk siswa , ini adalah pengalaman pertama mereka sebagai pembelajar online. Banyak yang berjuang — baik dengan teknologi maupun dengan menjadi pembelajar online, khususnya dalam lingkungan yang tidak sinkron.

Jadi, dalam perpindahan ke sistem pengajaran digital, salah satu hal terpenting yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan siswa kita untuk menjadi pembelajar online yang sukses. Keterlibatan ini akan membantu siswa dengan:

  • Pelatihan teknologi: sasuk ke sistem konferensi web, menggunakan email, mengingat kata sandi, manajemen file, menavigasi sistem manajemen pembelajaran, dll.
  • Karakteristik pribadi yang terkait dengan keberhasilan pembelajaran online: motivasi, manajemen waktu, kewarganegaraan digital, ketekunan, keterampilan mengatur diri sendiri , dan pencarian bantuan.
  • Keterampilan produktivitas terkait pembelajaran online: strategi membaca dan menulis lebih efektif dalam media online, membuat dan mengikuti jadwal, keterampilan manajemen informasi.

PASTIKAN STRUKTUR DAN DUKUNGAN UNTUK SEMUA SISWA DAN KELUARGA

Ketika sekolah bertransisi untuk menggunakan instruksi online sebagai bagian dari respons Covid-19, kota/kabupaten perlu memastikan bahwa persyaratan dan pedoman diberlakukan untuk memastikan pendidikan yang adil bagi semua siswa — baik di sekolah maupun di rumah. Ini akan melibatkan teknologi di tangan setiap siswa, membuat jadwal dan rutinitas untuk siswa, dan menetapkan kebijakan dan metrik baru untuk kehadiran, partisipasi, dan nilai dalam media online.

Sekolah akan membutuhkan dukungan dan struktur yang jelas untuk keluarga. Orang tua dan wali yang tidak memiliki keterampilan digital, yang tidak dapat membantu guru dengan pengajaran rumah, atau yang rumahnya mungkin tidak kondusif untuk belajar online akan membutuhkan bantuan tambahan. Sekolah mungkin menawarkan workshop/pelatihan untuk orang tua dan pengasuh serta anak-anak mereka untuk membuat model praktik pembelajaran digital rumahan yang diinginkan, mengajarkan keterampilan dasar literasi digital, membangun saluran komunikasi, berbagi teknik untuk mengevaluasi kemajuan anak mereka, dan menawarkan dukungan sosial, akademik, dan teknis yang lebih berkelanjutan kepada keluarga .

Pengalaman baru dengan pengajaran online daruratmemerlukan kolaborasi yang kuat antara — untuk guru, kepala sekolah, siswa, dan orang tua. Namun aa yang telah berjalan telah memberikan jalan penuntun yang berharga untuk desain, pengajaran, dan dukungan bagi guru, siswa, dan keluarga ketika kita bertransisi ke dalam apa yang nantinya akan menjadi lingkungan baru bagi banyak orang.

Terima kasih kepada para guru dan siswa yang berbincang baik dengan saya untuk artikel ini.

5 Cara Menghubungkan Pelajaran Sekolah dengan Pandemi

Pendidik sering mendengar dari siswa mereka, “Bagaimana saya akan menerapkan ini di dunia nyata saat ini?” Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Pandemi virus corona menghadirkan kesempatan unik bagi para pendidik yang ingin menggarisbawahi relevansi materi pelajaran mereka.

Siswa, yang sebagian besar belajar dari jarak jauh dan hidup di bawah pedoman jarak sosial, mengalami keadaan darurat ini setiap hari. Guru dapat memanfaatkan krisis yang dihadapi bangsa kita untuk menyampaikan pelajaran berharga tentang sejumlah mata pelajaran yang berbeda, serta menekankan pentingnya disiplin ilmu mereka di “dunia nyata.”

IDENTIFIKASI TUJUAN PEMBELAJARAN

Mulailah dengan evaluasi kurikulum saat ini dan tujuan utama di setiap unit pelajaran. Kemudian pertimbangkan cara-cara tujuan ini dapat dicapai dengan menggunakan contoh-contoh dari situasi saat ini.

Sebagai contoh, satu konsep kunci dalam studi sosial adalah keseimbangan antara kebebasan individu dan kesehatan kolektif, keselamatan, dan kesejahteraan. Pandemi jelas menunjukkan ketegangan dalam menciptakan kebijakan yang akan menjunjung tinggi hak individu sementara juga menjaga kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Pembicaraan tentang gesekan ini akan menjadi perdebatan menarik atau tugas menulis persuasif. Dengan menggunakan pandemi sebagai kerangka kerja, buat pelajaran seputar elemen-elemen ketegangan seperti berikut ini:

  • Pelacakan ponsel dan kemungkinan pelanggaran terhadap UU Telekomunikasi dan UU ITE
  • PSBB dan Pembebasan Tahanan
  • Hak protes dan perubahan terhadap PSBB
  • Bagaimana pemerintah dapat mematikan bisnis berjalan?

Mintalah siswa untuk memeriksa konsekuensi dari kebijakan publik di komunitas mereka.

JADIKAN RELEVAN

Hubungkan konsep-konsep dalam kurikulum dengan peristiwa terkini. Studi tentang pemerintahan biasanya sangat bergantung pada peristiwa-peristiwa bersejarah, tetapi pandemi ini memberikan peluang bagi contoh-contoh modern.

Misalnya, pelajaran mungkin fokus pada konsepsi Indonesia tentang Pemerintahan daerah. Dimana kita melihat aturan PSBB diserahkankepada daerah atas rekomendasi emerintah.” Hari ini, kita melihat bagaimana pemerintah daerah bekerja.

Tugaskan siswa sebagai dua gubernur provinsi yang berbeda – satu dari provinsi asal mereka dan satu dari provinsi tetangga – untuk penelitian. Tanyakan, “Bagaimana Covid-19 memengaruhi kondisi mereka masing-masing?” dan “Bagaimana tanggapan gubernur serupa atau berbeda?” Meneliti hasil yang berbeda dalam konteks saat ini menjadikan pelajaran lebih tepat waktu bagi siswa daripada hipotesis historis.

JANGAN BERPUTAR BALIK KEMBALI

Tidak perlu mengambil silabus atau memodifikasi rencana pelajaran secara luas. Banyak kurikulum yang mungkin tetap berlaku untuk peristiwa yang terjadi. Tetap fleksibel, tetap berpikiran terbuka, dan tetap terinformasi.

Sebagai contoh, ketika ada daerah secara terbuka menolak untuk menjalankan New Normal, coba kiirimkan berita pers tersebut ke siswa kelas dan meminta para siswa untuk mempertimbangkan bagaimana hal itu sesuai dengan aturan pemerintah selama krisis. Diluar itu mencatat bagaimana berbagai perusahaan berita menggambarkan perbedaan pendapat para tersebut dengan cara yang berbeda untuk menekankan bagaimana media dapat membentuk narasi.

Jelas, kita tidak bisa tetap terpaku pada media sepanjang waktu. Meringankan beban Anda dengan meminta siswa untuk menemukan persamaan antara kurikulum dan eristiwa terkini. Sebagai contoh, minta siswa untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip Konstitusi dalam berita. Siswa mengutip Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Coronavirus Disease-2019 (Covid-19) sebagai contoh pemisahan kekuasaan. Bagaimana siswa membuat koneksi antara kurikulum dan peristiwa terkini  yang memberdayakan mereka dan memungkinkan untuk penelitian yang dipimpin siswa.

Komunitas pembelajaran profesional — jejaring yang telah dibangun di media sosial atau kolega yang kami temui melalui konferensi video — adalah sumber daya berharga untuk pengembangan kurikulum di sekitar pandemi. Saya mengadakan pertemuan mingguan dengan seorang kolega untuk membahas cara membuat kurikulum yang relevan bagi siswa kami, mematuhi standar sambil juga menggabungkan peristiwa dunia dengan cara yang bermakna.

PENGARUH KETIDAKPASTIAN

Ketika Covid-19 pertama kali menyerang Indonesia, murid-murid saya menuntut fakta tentang virus tersebut. Namun, mereka menghadapi masalah yang sama dengan yang dilakukan orang lain: Jumlah berita yang tampaknya tak ada habisnya mengenai virus ini terbukti sulit diuraikan. Selain itu, banyak informasi yang saling bertentangan.

Belum pernah ada waktu yang lebih kritis dalam sejarah baru-baru ini untuk menekankan pentingnya pendekatan yang tajam dan bahkan skeptis terhadap berita dan informasi.

Hadirkan siswa dengan situs web atau artikel surat kabar yang berfokus pada virus atau respons bangsa. Mintalah siswa untuk mengevaluasi sumber menggunakan tes CRAP, yang dikembangkan oleh Molly Beestrum, adalah alat yang berguna untuk digunakan ketika mencoba memutuskan apakah situs web adalah sumber yang kredibel dan valid. Tes CRAP melihat empat bidang utama: mata uang, keandalan, otoritas, dan tujuan. Saat menentukan apakah situs web kredibel atau tidak, evaluasilah pada keempat bidang tersebut. Berikut adalah beberapa saran untuk membantu Anda memikirkan proses evaluasi Anda.

  1. Kapan sumber daya diterbitkan? Apakah sudah diperbarui atau direvisi? Bisakah keadaan berubah sejak dipublikasikan?
  2. Apakah ada referensi, kutipan, grafik, atau catatan kaki? Apakah ada bukti yang cukup untuk mendukung pemikiran penulis?
  3. Siapa penulis atau penerbit? Bisakah mereka diandalkan?
  4. Apakah penulis atau penerbit memiliki agenda? Apakah mereka mencoba membujuk Anda? Bisakah Anda mendeteksi anggapan?

TEMUKAN APLIKASI DUNIA NYATA

Guru sains dan matematika dapat menggunakan pandemi untuk menjawab pertanyaan yang mungkin dimiliki siswa tentang keselamatan dan keamanaan mereka sendiri. Pertimbangkan cara untuk mengembangkan pelajaran yang membantu memecahkan kode bahasa sehari-hari yang sering kali tidak jelas dan penuh jargon. Pertanyaan mudah seperti “Mengapa itu disebut ‘kekebalan komunitas’?” dan “Bagaimana proses pengembangan vaksin?” dapat mengarahkan siswa untuk memahami situasi dengan lebih baik.

Buat koneksi antara temuan objektif ini di semua bidang akademik dan kehidupan siswa. Jelaskan bagaimana vaksin dapat memungkinkan lebih banyak kebebasan bergerak atau kemampuan untuk mengunjungi kakek-nenek tanpa rasa takut. Dengan menggunakan penyakit ini sebagai contoh, siswa dapat belajar bagaimana “komorbiditas” seperti obesitas atau merokok dapat membuat individu berisiko tinggi, serta pentingnya pemeriksaan rutin dan tetap sehat.

Dengan membantu siswa memahami berita — bagaimana berita itu secara langsung memengaruhi kehidupan mereka dan keamanan orang yang mereka cintai — kami menggarisbawahi kepada anak-anak kami bahwa materi yang mereka pelajari setiap hari di ruang kelas memiliki keterkaitan di luar pagar sekolah.

Ubah Total Sistem Pendidikan, Guru Siap Berlakukan New Normal di Sekolah, Hilangkan Jam Istirahat dan Belajar Hanya 4 Jam

Pandemi corona yang menimpa hampir seluruh segi kehidupan benar-benar mengubah bagaimana cara kita beraktivitas.

Mau tak mau kita harus menerapkan kebiasaan yang sebelumnya belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Para pengajar kini harus putar otak mengubah sistem model belajar di kelas apabila new normal atau era kenormalan baru diterapkan di sekolah.

Hal tersebut disampaikan Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Ciput Eka Purwianti dalam webinar, Kamis (28/5/2020).

“Peran institusi pendidikan sudah pasti, jelas para guru harus siap remodeling sistem belajar di kelas,” ujar Ciput.

New normal, kata dia, patut dikhawatirkan karena penularan Covid-19 mungkin terjadi kepada anak-anak di sekolah.

Oleh karena itu, konsep dan skenario new normal di sekolah pun sangat penting dirumuskan.

Saat ini, Kemen PPPA bersama kementerian/lembaga terkait sedang merumuskan pengaturan tersebut.

“Jumlah siswa, pengaturan jarak itu pasti akan ada jeda-jeda tertentu. Itu yang sedang diatur,” kata dia.

Dalam merumuskan pengaturan itu, pihaknya juga merekomendasikan untuk menghilangkan jam istirahat dan memperpendek jam pelajaran menjadi 4 jam belajar.

Hal tersebut bertujuan untuk mencegah kepadatan anak-anak saat masuk dan keluar sekolah secara bersamaan.

Termasuk juga jam masuk dan pulang antar kelas yang diberlakukan berbeda supaya anak-anak tidak berkerumun saat tiba di gerbang sekolah serta saat akan pulang.

Selain itu, fasilitas untuk mencuci tangan dengan sabun juga harus diperbanyak oleh sekolah agar tidak terjadi antrean anak-anak yang akan mencuci tangan.

Pangkas jam belajar hingga jadi 4 jam tanpa jeda istirahat

Salah satu ide pengaturan new normal di sekolah yakni menghilangkan jam istirahat dan mengurangi jam belajar hanya menjadi 4 jam saja.

Ide tersebut merupakan rekomendasi yang diusulkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dalam perumusan protokol new normal di sekolah.

“Namun yang sedang kami rekomendasikan adalah menghilangkan jam istirahat dan memperpendek jam pelajaran, yang sedang didiskusikan masuk 4 jam sehari tanpa jam istirahat,” kata Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kemen PPPA Ciput Eka Purwianti dalam webinar, Kamis (28/5/2020).

Hal tersebut bertujuan mencegah kepadatan anak-anak saat masuk dan keluar sekolah secara bersamaan.

Rekomendasi lainnya yakni jam masuk dan pulang antar kelas yang diberlakukan berbeda supaya anak-anak tidak berkerumun saat tiba di gerbang sekolah serta saat akan pulang.

Berkaca dari pengalaman Australia yang sudah mulai menyekolahkan siswa-siswi mereka, kata dia, saat ini tidak semua kelas langsung kembali bersekolah.

“Mereka hanya dua kelas dulu untuk uji coba, termasuk menyiapkan siswa, guru, tenaga pendidik dengan new normal ini,” kata dia.

“Kalau di Indonesia saya pikir bisa disiasati dengan diberi jeda masuknya, satu jam. Jadi masuk dan pulang tidak bersamaan sehingga tidak bertumpuk saat keluar masuk gerbang,” kata dia.

Selain itu, fasilitas untuk mencuci tangan dengan sabun juga harus diperbanyak oleh sekolah agar tidak terjadi antrean anak-anak yang akan mencuci tangan.
(Deti Mega Purnamasari)

(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “New Normal” di Sekolah, Guru Harus Siap Ubah Model Belajar di Kelas”

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Rekomendasi New Normal di Sekolah: Hilangkan Jam Istirahat dan Belajar Hanya 4 Jam”