SELAMAT ULANG TAHUN

“Selamat Ulang Tahun”
“Loh siapa Pak yang Ulang tahun”
“Selamat Ulang Tahun”
“Sudah Lewat Pak ulang tahunnya”
Sejak 2008 saya mulai mengucapkan “selamat Ulang tahun” kepada anak (baca: murid-murid) yang berbapapasan dengan saya, tentunya setelah saya mengucap salam. Beragam jawaban dan tanggapan pun muncul begitu mendengar ucapan saya.
“Loh siapa pak yang ulang tahun”, “wah sudah lewat pak ulang tahunnya”, “Nggak pak saya nggak ulang tahun”, “Ini loh pak yang ulang tahun” sambil menunjuk teman disebelahnya, dan masih beragam jawaban lainnya. Tanggapan yang muncul pun bermacam-macam ada yang kaget, ada yang raut mukanyanya heran, ada yang sacara spontan meyakinkan dirinya tidak ulang tahun dan masih bermacam ragam tanggapan lainnya. Saya selalu tersenyum setiap kali mendengar jawaban dan melihat raut muka tanggapan yang muncul. Lalu apa sebenarnya yang saya cari?

Bukan sekedar main-main kalau saya mulai melakukan hal tersebut. Hingga kini pun anak-anak hafal begitu ketemu saya langsung mengucap kata selamat ulang tahun setelah selesai memberi salam, bahkan seolah berlomba mendahului saya untuk mengucapkannya. Ini sebenarnya adalah bentuk kerisauan ketika melihat proses pendidikan disekolah yang membuat saya melakukan hal tersebut dan ingin mencari jawabannya. Setidaknya ada tiga hal yang mendasari saya melakukannya.

Pertama, Pendidikan itu adalah pembiasaan. Saya teringat akan hadist ini “Setiap anak dilahirkan di dalam keadaan fithrah, maka orangtuanyalah yang (kemudian) menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari). Apa yang saya lakukan membuktikan bahwa Pendidikan adalah Pembiasaan. Setiap anak yang pernah berpapasan dengan saya berlomba mengucapkan lebih dulu kata “Selamat Ulang Tahun”. Orang tua (Bisa bapak ibu ataupun Guru) memberi peran besar dalam perubahan karakter anak dimasa depannya. Peran guru disekolah untuk memberi kebiasaan baik sejak dari SD hingga Perguruan Tinggi akan membentuk karakter anak. Jika dari SD guru sudah membiasakan anak (baca: murid-murid) untuk bekerja keras, menghargai hasil kerja sendiri, dan jujur dalam meraih prestasinya, kemudian dilanjutkan di SMP dan di SMA maka tentu akan memberi dampak yang nyata bagi anak tersebut. Sebaliknya bagaimana kita bisa berharap anak jujur kalau guru dalam memberi nilai dan membimbing anak senantiasa kurang serius bahkan cenderung menggampangkan, atau bahkan sesuai permintaan sekolah atau permintaan sistem.

Kedua, Kujujuran hanya untuk menyelamatkan diri. Setiap mendengar ucapan selamat ulang tahun bagi anak SMP atau SMA cenderung berkonotasi “Kapan ditraktir?” yang ujung-ujung mengeluarkan uang. Kalimat spontan “Bukan saya Pak yang ulang tahun” atau “Loh siapa yang ulang tahun” adalah jawaban jujur spontan yang didasari karena kecenderungan tersebut. Kecenderungan takut dimintai untuk mentraktir, cenderung menghindar dan cenderung tidak melihat esensi atau makna dibalik ucapan tersebut. Kebiasaan kecil ini memang tidak terlihat tapi dampaknya lumayan besar. Anak jadi akan menggunakan kejujuran hanya pada saat untuk mempertahankan dirinya atau menyelamatkan dirinya dari sesuatu hal yang merugikannya. Jujur tidak dijadikan dalam kebiasaan perilaku sehari-harinya. Disinilah peran guru dan orang tua diperlukan untuk menanamkan perilaku jujur sejak kecil. Menanamkan jika jujur dilakukan tidak akan membahayakan dirinya, menanamkan kalau jujur akan memberi kemudahan dalam hidupnya, dan jujur digunakan sebagai landasan perilakunya bukan sekedar untuk menyelamatkan diri.

Ketiga, Tauladan adalah kuncinya. Guru dan orang tua akan dilhat anak setiap harinya. Apa yang dilakukan guru disekolah akan direkam oleh anak setiap hari. Rekaman tersebut akan dijadikan landasan bersikap baginya. Anak sekarang cenderung kurang menghormati guru dan orang tuanya bahkan mungkin kadang tidak dianggap. Ini adalah hasil dari apa yang mereka lihat setiap hari. Anak cenderung berani mencontek karena peran guru berkurang fungsinya. Guru berkurang wibawanya karena tauladan dirinya berkurang dimata anak. Anak berani mengambil langkah mencontek karena tidak memiliki tauladan. Dari jawaban dan tanggapan yang saya peroleh sewaktu saya ucapkan “Selamat ulang tahun”, menandakan bahwa anak menganggap figur guru sudah mulai hilang. Sewaktu saya sekolah dulu ketika mendengar guru saya ngomong “saya lapar” saya dan teman-teman berebut mengajukan diri untuk disuruh membelikan makanan bagi guru. Sekarang meskipun disinggung anak cenderung menghindar untuk mentraktir meskipun yang menyinggung gurunya. Bukan saya pingin ditraktir anak-anak, tapi lihat kepekaan mereka mulai berkurang dan itu karena peran Guru dan Orang Tua dalam menanamkannya kepada anak kurang mendapat perhatian.

Jadi jangan salahkan mereka atas karakter yang terbentuk namun mari membuat perubahan bagaimana menanamkan kepada mereka hal-hal yang baik dan tauladan yang baik. Memang hasilnya tidak dapat dilihat langsung sekarang. Butuh waktu panjang namun percayalah kita butuh berpuasa lebih dahulu sebelum menikmati Hari Raya. Seperti apa yang saya lakukan sejak 2008 hingga hari ini memberi ucapan “Selamat Ulang Tahun”, dan terus ingin mengetahui dampaknya disetiap pergantian generasi. Ini untuk mengingatkan diri saya sendiri setiap waktu untuk serius memberi tauladan, pembiasan, dan menanamkan kejujuran kepada murid-murid saya.

Pengajar, Penulis, Konsultan Sekolah, Pemerhati Pendidikan, Sutradara, Desainer, Seniman, Aktif di PDM Surabaya & PWM Jatim