fbpx

Saya masih bisa merasakan hari ini betapa besar peran pembiasaan dalam proses pembelajaran. Sewaktu saya masih SD Emak saya yang cantik setiap menjelang lebaran dan hari-hari besar peringatan tertentu selalu menyibukkan diri didapur. Beliau membeli banyak telur, tepung, vanili dan batang coklat. Sejak habis Isya’ , untuk menyiapkan hari besuk beliau membuat adonan “Roti Kukus” rumahan yang rasanya tidak ada yang mengalahkannya hingga hari ini. Beliau membuat banyak sekali roti kukus bahkan mungkin tidak sempat tidur semalaman. Saat bangun tiba-tiba saja saya sudah melihat tumpukan roti kukus berukuran besar-besar dengan diameter piring makan. Subuh sekali beliau membangunkan semua anaknya. Suasana waktu itu juga masih terasa hingga sekarang, bercampur ngantuk namun ada suasana gembira yang luar biasa.

Satu persatu beliau meletakkan kue kukusnya diatas lap kotak-kotak, ya ini lap jaman dulu yang saya masih bisa temui hingga hari ini. Ibu mengikatnya dengan rapi dengan ikatan lainnya dilebihkan untuk pegangan seperti pegangan tas. Lalu ibu memanggil satu persatu anaknya. Menyerahkan roti kukus kepada anaknya sambil berpesan “Jangan lupa, sebelum masuk rumahnya ucapkan salam, trus salim sama gurumu, duduk yang baik dan dengarkan nasehatnya”, saya dengan gembira menerima roti kukus itu dan mengingat apa yang ibu katakan. Saya diperintah datang kerumah guru SD saya yang bernama Pak Kohir. Ibu memilihkan guru yang didatangi setiap kali mengirim roti kukus buatannya. Setiap datang membawa roti kukus saya menemui guru yang berbeda, demikian juga adik dan kakak saya.

Ada jutaan deg-degan ketika pertama kali berkunjung kerumah guru. Guru waktu itu bagai seorang raja yang baik dan berkuasa tinggi. Jangankan ngobrol sama guru, ketemu dan melihat dijalan saja sudah malu dan tidak berani menatapnya apalagi mendatangi rumahnya. Tapi ini perintah ibu, perintah yang tidak bisa ditolak, namun bila dijalankan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Akhirnya saya sampai juga didepan rumah guru. Saya menunggu beberapa saat biasanya ada teman juga yang datang, tapi kali ini mungkin terlalu pagi sehingga saya tidak menemuinya. Bayangkan saya masih kelas 5 SD saat pertama kali mendapat tugas itu. Masih kecil, kecil sekali untuk bertamu. Ya karena tidak menemui ada barengan teman saya pun beranikan diri ketuk pintu dan ucapkan salam. Setelah menunggu beberapa saat, Alhamdulillah begitu pintu dibuka oleh Pak Kohir, saya melihat ada beberapa teman yang sudah duduk disana, hilang rasa deg-degannya dan kamipun mendengar nasehat-nasehat kehidupan dari guruku itu.

Kini, diusia menuju 50 tahun saya masih deg-degan ketika ketemu dengan guru SD yang Alhamdulillah masih ada satu guru SDku yang masih bugar dan sehat. Masih merasa takut menatapnya, namun tetap saya beranikan diri menatap untuk melihat sinar rahmat dari Allah sebagai guru yang barangkali menular pada wajah saya juga 🙂 . Dari itu semua hari ini saya merasa perbedaan yang sangat jauh. Murid-murid terbiasa kurang berlaku hormat kepada gurunya, berani memangil dari jauh, saat berpapasan dengan guru yang sedang lewat mereka tidak berhenti bahkan lewat saja seolah berpapasan dengan orang lain dan ini bukan dijalan bahkan dilingkungan sekolah muslim. Murid-murid berani menggoda gurunya seolah menganggap temannya, meski saya tahu ini munglin dampak konsep pembelajaran modern yang sudah berbeda. Walau begitu saya masih bisa tersenyum saat berkunjung ke sekolah teman yang beragama beda. Murid-murid mereka masih bisa berlaku seperti saya berlaku kepada guru saya waktu kecil. Saya senang bersilaturrahim dengan mereka karena bisa mengobati rindu masa kecil yang kini berlaku kepada diri sendiri.

Ini adalah tamparan dan tantangan bagi saya seorang guru dilingkungan sekolah muslim dengan ajaran Agama paling sempurna. Saya masih memiliki keyakinan bisa membuat mereka para murid memiliki rasa hormat yang tinggi kepada gurunya. Dengan keyakinan ajaran agama yang sempurna saya memiliki rasa optimis yang besar bisa memperbaikinya. Namun saya belum tahu apa memang sikap gurunya atau sistem sekolahnya yang membuat mereka memiliki perilaku tersebut. Yang saya tahu adalah apa yang dijarkan guru SD saya yaitu “Man Yazro’ Yahsud” siapa yang menanam dia yang menuai. Dan keluarga adalah bagian terpenting dalam kehidupan. Sebagai guru saya memiliki pandangan pendidikan dalam rumah adalah yang terbaik, maka perbanyak waktu mendidik anak-anak dirumah sebelum mendidik anak-anak orang lain. Kita takkan bisa merubah waktu yang berjalan dan membuatnya mundur manakala melihat anak-anak kita sudah besar namun menyesal karena banyak waktu kita mengurusi murid-murid. Disamping itu bagi saya pendidikan itu seperti cermin, murid kita dan anak kita adalah bayangan kita. Tinggal kita memilih terlihat seperti apa didepan cermin tersebut. Sebab takkan ada murid hormat bila guru tidak memiliki rasa hormat, takkan ada murid lemah lembut bila guru kasar dalam berkata, takkan ada murid memiliki keahlian bila guru tidak ahli dan takkan ada murid juara bila guru tidak pernah juara.

So jadilah seperti harapanmu kepada apa yang kamu harapkan terhadap muridmu. Kalau ingin muridmu jadi penulis ya gurunya harus jadi penulis (lho lho kok jadi masalah nulis… hehehe buka nyindir lho). Mari ikhlaskan hati menerima kebaikan. Tumbuhkan rasa suka dan tidak suka karena Allah. Saat ada kebaikan datang dan kita ingin melakukannya itu tandanya Allah masih cinta sama kita. Ini kritikan dan pembelajaran untuk diri saya sendiri

%d blogger menyukai ini: